SAMARINDA — Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM (P2SDM) Wilayah V mencatat nilai transaksi ekonomi dari usaha perhutanan sosial di Kalimantan Timur mencapai Rp8,1 miliar dalam lima bulan pertama 2026. Kontribusi terbesar berasal dari Kabupaten Berau yang mencatat perputaran ekonomi lebih dari Rp7,87 miliar.
Kepala P2SDM Wilayah V, Elpa Rifadi, menyebut keberhasilan Kelompok Tani Hutan (KTH) Sei Baruk Lestari menjadi contoh nyata. Kelompok ini menghasilkan miliaran rupiah dari komoditas gubal gaharu, membuktikan bahwa hasil hutan bukan kayu masih menjadi penggerak utama ekonomi kehutanan di Kaltim.
"Keberhasilan KTH Sei Baruk Lestari dalam menghasilkan miliaran rupiah dari komoditas gubal gaharu membuktikan bahwa pengelolaan hasil hutan bukan kayu tertentu masih menjadi penggerak utama ekonomi kehutanan kita," ujar Elpa di Samarinda, Senin (29/6/2026).
Masyarakat tidak hanya bergantung pada hasil hutan kayu. Sejumlah kelompok tani mulai mengembangkan produk olahan biomassa, budidaya madu kelulut, dan sistem agroforestri berbasis tanaman kopi. Di wilayah perkotaan, kawasan konservasi disulap menjadi destinasi wisata alam yang menambah pemasukan kelompok.
Elpa menilai potensi perhutanan sosial di Kaltim masih besar. Pihaknya akan mendorong peningkatan kapasitas usaha dan perluasan kemitraan bisnis agar manfaat ekonomi lebih inklusif.
"Melihat masih adanya potensi besar yang belum optimal, peningkatan kapasitas usaha dan perluasan kemitraan bisnis akan terus kami dorong supaya pertumbuhan ekonomi kerakyatan menjadi lebih inklusif," tuturnya.
Keberhasilan ini tidak lepas dari tenaga penyuluh yang mendampingi kelompok tani. Mereka membantu memperluas akses pemasaran, memperkuat kelembagaan, dan meningkatkan tata kelola administrasi usaha. Dampaknya, partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan dan keseimbangan ekosistem ikut meningkat.
Sebagai langkah jangka panjang, P2SDM Wilayah V mendorong diversifikasi usaha. Strategi ini bertujuan agar masyarakat pedalaman tidak bergantung pada satu komoditas unggulan dan memiliki ketahanan ekonomi yang lebih kuat.
"Strategi diversifikasi usaha tetap menjadi landasan penting agar masyarakat pedalaman tidak bergantung pada satu komoditas unggulan," ujar Elpa.