Rupiah Menguat 63 Poin ke Rp17.859 per Dolar AS, Terangkat Spekulasi Intervensi BI

Penulis: Dimas Prasetyo  •  Senin, 29 Juni 2026 | 10:29:31 WIB
Rupiah menguat 63 poin ke Rp17.859 per dolar AS pada awal pekan ini.

KALIMANTAN TIMUR — Pergerakan rupiah pada awal pekan ini memberikan sedikit ruang bagi pelaku pasar untuk bernapas. Setelah sempat tertekan hingga menembus level psikologis Rp17.900, mata uang Garuda kini kembali bertengger di bawah level tersebut. Sentimen penguatan lebih banyak didorong oleh ekspektasi bahwa Bank Indonesia (BI) kembali masuk pasar untuk menstabilkan kurs.

Intervensi BI Jadi Katalis Utama Pergerakan

Kepala ekonom dari sebuah bank investasi asing di Jakarta memperkirakan BI telah melakukan intervensi ganda, baik di pasar spot maupun melalui lelang Surat Berharga Negara (SBN) untuk menahan laju depresiasi. Langkah ini dinilai efektif untuk meredam aksi spekulasi jangka pendek. "Volume perdagangan pagi ini cukup tebal, indikasinya ada tangan-tangan tak kasatmata yang merapikan posisi," ujarnya dalam catatan singkat.

Meski menguat, tekanan terhadap rupiah masih jauh dari kata selesai. Indeks dolar AS (DXY) masih bertahan di level tinggi, didukung oleh data tenaga kerja Amerika Serikat yang tetap solid. Dalam sepekan terakhir, rupiah sudah melemah lebih dari 1,5 persen, menjadikannya salah satu mata uang dengan performa terburuk di Asia.

Pemburu Diskon Mulai Masuk, Tapi Risiko Masih Mengintai

Bagi importir, penguatan pagi ini mungkin hanya menjadi jendela kecil untuk mengamankan kebutuhan dolar mereka. Sebaliknya, bagi eksportir, momen pelemahan justru menjadi berkah karena nilai penerimaan dalam rupiah membengkak. Namun, ketidakpastian global masih membayangi. Pelaku pasar kini menanti data inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini sebagai penentu arah suku bunga The Fed selanjutnya.

Analis pasar uang menyarankan investor untuk tetap waspada terhadap potensi volatilitas. Level support terdekat rupiah berada di Rp17.850, sementara resistance psikologis berada di Rp17.950. Jika tekanan jual asing kembali deras, bukan tidak mungkin rupiah kembali menguji level terlemahnya dalam beberapa bulan terakhir.

Dampak ke Sektor Riil: Harga Impor Berpotensi Naik

Pelemahan kurs yang berkepanjangan mulai terasa di sektor riil. Bahan baku impor untuk industri manufaktur dan farmasi menjadi lebih mahal. Asosiasi pengusaha sebelumnya sudah menyuarakan kekhawatiran bahwa depresiasi rupiah di atas 5 persen secara year-to-date akan menggerus margin keuntungan perusahaan. "Kami berharap BI terus menjaga stabilitas agar perencanaan bisnis tidak terganggu," ujar seorang pengurus asosiasi industri.

Di sisi lain, pemerintah dan BI kemungkinan akan terus mengoptimalkan instrumen moneter dan fiskal untuk menjaga kepercayaan pasar. Keputusan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen pada RDG bulan lalu juga menjadi sinyal bahwa prioritas utama saat ini adalah stabilitas nilai tukar.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Dimas Prasetyo
Sumber: mataram.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top