KALIMANTAN TIMUR — Konsensus yang dirilis Tesla melalui laman hubungan investor pada pekan lalu menunjukkan angka yang cukup datar. Estimasi tersebut dikumpulkan dari 22 analis, termasuk Morgan Stanley, Goldman Sachs, JPMorgan, dan UBS. Padahal, tiga bulan lalu target setahun masih 1,69 juta unit, tapi kini turun sekitar 35.000 kendaraan.
Dari total prediksi 406.024 unit, sebanyak 392.625 unit diperkirakan berasal dari Model 3 dan Model Y—dua model yang menyumbang sekitar 95 persen pengiriman global. Sisanya, hanya 12.978 unit dari Model S, Model X, dan Cybertruck.
Angka untuk model-model lain itu turun drastis dari 16.130 unit pada kuartal I 2026. Artinya, kendaraan dengan margin lebih tinggi dan model terbaru justru makin sepi peminat.
Meski konsensus jangka panjang menunjukkan optimisme—dengan proyeksi 1,82 juta unit di 2027, 2,06 juta di 2028, hingga 2,65 juta di 2030—angka-angka itu menyimpan keraguan besar. Standar deviasi untuk estimasi 2030 mencapai 760.060 kendaraan. Artinya, para analis tidak sepakat dalam selisih hampir satu juta unit tentang posisi Tesla empat tahun ke depan.
Ketidakpastian ini mencerminkan belum jelasnya realisasi model murah yang dijanjikan dan katalis pertumbuhan lain.
Satu-satunya titik terang dalam konsensus ini adalah divisi energi. Analis memperkirakan Tesla akan mengirimkan 13,8 GWh sistem penyimpanan energi pada kuartal II 2026, naik tajam dari 8,8 GWh di kuartal sebelumnya. Proyeksi setahun penuh mencapai 57,9 GWh, dan melesat menjadi 150,1 GWh pada 2030.
Bisnis baterai dan panel surya kini menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat, berbanding terbalik dengan volume kendaraan yang hampir mandek.
Pada kuartal I 2026, Tesla memang merebut kembali posisi penjualan EV global dari BYD, tapi lebih karena faktor eksternal. Penjualan domestik BYD anjlok setelah China menghapuskan pembebasan pajak pembelian kendaraan listrik—bukan karena permintaan Tesla yang melonjak.
Tesla masih sangat bergantung pada pabrik Shanghai yang menyumbang sekitar 60 persen volume global. Sementara itu, model andalannya—Model 3 dan Model Y—sudah mulai berumur dan persaingan dari pabrikan China seperti BYD, Nio, hingga Xiaomi makin ketat.
Penerbitan konsensus oleh Tesla sendiri dinilai sebagai langkah strategis. Dengan mengumpulkan estimasi analis dan menampilkannya di halaman IR, perusahaan secara efektif menentukan standar yang akan dipakai untuk menilai kinerjanya. Catatan menunjukkan, angka tersebut kerap bergerak turun menjelang akhir kuartal.
Pada kuartal I 2026, Tesla tetap meleset dari konsensusnya sendiri: hanya mengirimkan 358.023 unit dari target 365.645, dan menumpuk lebih dari 50.000 kendaraan yang tidak terjual. Angka 406.024 untuk kuartal II dinilai realistis dan akan mencatatkan pertumbuhan tahunan, tetapi tidak mengubah fakta bahwa Tesla yang dulu tumbuh 50 persen per tahun kini hanya bergerak di tempat.