Keputusan ini diambil di bawah kepemimpinan CEO Xbox yang baru, Asha Sharma, yang menyebut portofolio studio Microsoft saat ini "terlalu melebar" (over extended). Ironisnya, pernyataan itu muncul di saat Microsoft sebagai induk perusahaan membukukan laba hampir 32 miliar dolar AS pada kuartal terakhir, sebagian besar dari investasi besar-besaran di bidang AI.
Nasib paling tragis mungkin menimpa Ninja Theory, pengembang Hellblade: Senua's Sacrifice. Menurut The Verge, studio asal Inggris itu akan ditutup jika tidak segera menemukan pembeli. Keputusan ini terasa kontradiktif karena Microsoft baru saja mengumumkan sekuel Hellblade dalam acara Xbox Showcase baru-baru ini.
Jika benar ditutup, ini akan menjadi pukulan telak bagi industri game naratif yang mengedepankan kualitas sinematik. Ninja Theory dikenal tidak hanya lewat Hellblade, tetapi juga Heavenly Sword dan Enslaved: Odyssey to the West.
Sementara itu, Double Fine—studio yang didirikan 26 tahun lalu oleh legenda LucasArts, Tim Schafer—sedang dalam "negosiasi aktif untuk memisahkan diri" (spin off). Namun, Bloomberg mengutip sumber anonim yang menyatakan bahwa PHK tetap tak terhindarkan, bahkan bagi studio yang berhasil membeli independensinya.
Kabar ini memilukan karena hubungan Tim Schafer dengan Microsoft sebelumnya terlihat sangat harmonis. Dalam sebuah pertemuan media tahun lalu, Schafer memuji mantan CEO Xbox Phil Spencer yang menghormati kebebasan kreatif studio. "Saat kami bicara soal diakuisisi, saya bertanya, 'Bagaimana cara menjaga budaya kami tetap utuh?' Dan mereka bilang, 'Tidak, kami benar-benar ingin kalian tetap seperti diri kalian sendiri.' Dan itu benar adanya selama bertahun-tahun," kata Schafer kala itu.
"Secara kreatif, kami bisa bilang, 'Hei, kami ingin bikin game tentang mercusuar yang bisa berjalan,' dan mereka jawab, 'Keren. Kedengarannya keren.'" Kini, pernyataan itu terasa getir di tengah realitas restrukturisasi yang kejam.
Double Fine diakuisisi Microsoft pada 2019 di bawah arahan Phil Spencer, arsitek di balik pembelian besar-besaran studio seperti Bethesda dan Activision Blizzard. Spencer pensiun beberapa bulan lalu, dan warisannya kini mulai dibongkar.
Kami juga mendapat informasi bahwa kepala Xbox Game Studios dan kepala stafnya telah mengundurkan diri hari ini. Ini menandakan bahwa perubahan ini bukan sekadar efisiensi, melainkan perombakan total struktur organisasi.
Bagi penggemar game di Indonesia, kabar ini menjadi pengingat bahwa industri game—meski menghasilkan miliaran dolar—adalah bisnis yang kejam. Karya seni dan kreativitas seringkali harus tunduk pada lembar kerja Excel dan target kuartalan pemegang saham.