KALIMANTAN TIMUR — Kenaikan harga Pertamax dan kabar soal potensi pembatasan BBM bersubsidi dalam beberapa pekan terakhir membuat banyak orang mulai melirik motor listrik. Namun, antrean panjang inden unit baru di dealer resmi memaksa sebagian calon pembeli beralih ke pasar motor listrik bekas yang mendadak panas. Sayangnya, tanpa standar valuasi yang jelas, transaksi jual-beli motor listrik bekas rawan merugikan salah satu pihak.
Selama puluhan tahun, skema penyusutan harga motor bensin sudah mapan. Faktor seperti tahun perakitan, kondisi bodi, dan angka di odometer jadi patokan utama. Tapi untuk motor listrik, anatomi nilainya berbeda total. Komponen paling krusial adalah baterai—yang performanya bisa turun drastis seiring waktu dan siklus pengisian, bukan cuma jarak tempuh.
Tanpa formula yang tepat, pembeli berisiko membeli unit dengan baterai yang sudah drop tanpa tahu nilai sebenarnya. Di sisi lain, penjual bisa saja menggoreng harga di atas kewajaran memanfaatkan momentum kepanikan BBM. Desmolindo hadir untuk menjembatani celah ini.
Asosiasi yang menaungi dealer motor listrik ini merumuskan formula sederhana namun mengikat sejumlah variabel penyusutan. Berikut rumus yang dirilis secara resmi:
Harga = P0 - TNKB - (t x 50% Bat) - (t x 10% P0)
Dengan pendekatan ini, harga motor listrik bekas tidak lagi ditentukan oleh spekulasi atau sekadar melihat fisik bodi. Faktor baterai—yang merupakan komponen termahal—menjadi variabel utama dalam perhitungan.
Desmolindo menekankan bahwa formula ini bukan sekadar angka, melainkan alat edukasi bagi masyarakat. "Masyarakat harus paham bahwa membeli motor listrik bekas berbeda dengan motor bensin. Risiko terbesar ada di baterai, bukan mesin," demikian pesan yang tersirat dari rilis asosiasi tersebut.
Langkah ini diambil untuk mencegah skenario di mana pembeli menjadi korban spekulasi harga yang digoreng penjual, atau justru membeli 'kucing dalam karung' karena performa baterai sudah anjlok. Dengan adanya acuan matematis yang transparan, transaksi jual-beli motor listrik bekas diharapkan berjalan lebih adil dan rasional.
Pasar motor listrik bekas di Indonesia memang tengah tumbuh cepat, dan kehadiran formula valuasi dari Desmolindo bisa menjadi standar yang dinanti para pelaku industri. Tinggal sekarang bagaimana konsumen dan dealer mau mengadopsinya di lapangan.