Perdebatan soal pelopor ritel gudang di Amerika Serikat bukan sekadar nostalgia. Ini menyangkut sejarah inovasi model bisnis yang kini diadopsi raksasa e-commerce seperti Amazon lewat layanan Prime. Sam’s Club dan Costco—dua nama identik dengan rak tinggi dan kemasan jumbo—punya klaim masing-masing.
Sam’s Club, bagian dari kerajaan ritel Walmart, memulai operasinya pada 1983. Toko pertama dibuka di Midwest City, Oklahoma, sebagai jawaban Sam Walton terhadap tren belanja grosir yang mulai populer.
Walton melihat celah pasar: menjual barang dalam jumlah besar dengan harga murah, khususnya bagi pemilik usaha kecil. Konsep ini langsung menuai sukses dan menjadi fondasi ekspansi cepat Sam’s Club di seluruh Amerika.
Costco Wholesale Corporation justru mengklaim pendirian lebih awal. Perusahaan ini pertama kali didirikan dengan nama Costco pada 1983 di Seattle, Washington. Namun, sejarahnya sedikit lebih rumit.
Cikal bakal Costco adalah Price Club, jaringan gudang ritel yang didirikan Sol Price pada 1976 di San Diego, California. Sol Price dianggap sebagai penemu sejati model klub gudang. Costco kemudian bergabung dengan Price Club melalui merger besar pada 1993, menyatukan dua warisan ritel paling ikonik.
Jika merujuk pada nama perusahaan yang kita kenal sekarang, Sam’s Club dan Costco sama-sama memulai debut toko pertama pada 1983. Namun, jika garis sejarah ditarik lebih ke belakang, Price Club—pendahulu Costco—telah beroperasi sejak 1976. Ini membuat Costco, secara korporat dan konseptual, memiliki akar yang lebih dalam.
Sam’s Club berargumen bahwa mereka pionir murni model bisnis yang langsung menggunakan nama dan struktur perusahaan sejak hari pertama. Costco, dalam narasinya, lebih suka menonjolkan warisan inovasi Price Club yang kemudian disempurnakan.
Perdebatan historis ini relevan bagi Indonesia, di mana model klub gudang mulai diuji oleh beberapa pemain lokal dan internasional. Konsep keanggotaan berbayar untuk harga grosir bukan hal baru, namun adopsinya masih terbatas.
Persaingan Sam’s Club versus Costco mengajarkan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh siapa yang pertama, tetapi oleh konsistensi harga, kualitas produk pilihan—seperti roti lapis dan ayam panggang seharga $1,50—serta loyalitas anggota. Kedua raksasa ini membuktikan bahwa model bisnis yang lahir di era 70-an dan 80-an masih relevan di tengah gempuran belanja online.