KALIMANTAN TIMUR — Gojek tidak sendirian dalam menghadirkan layanan beli obat daring. Lewat integrasi strategis dengan Halodoc, super-app asal Indonesia ini menciptakan ekosistem health-tech yang memungkinkan konsultasi dokter, resep digital, hingga penebusan obat dalam satu genggaman.
Riset internal menunjukkan, penggabungan layanan kurir instan dengan platform telemedis mampu memangkas waktu distribusi obat secara signifikan. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, obat bisa sampai dalam 30-45 menit untuk radius 5-10 kilometer.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat peredaran obat palsu di pasar gelap digital masih menjadi ancaman serius. GoMed menjawab risiko ini dengan sistem rantai pasok yang terpantau digital.
Setiap apotek mitra wajib memiliki Surat Izin Apotek (SIA) dan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA). Pesanan dikirim langsung dari apotek fisik legal ke tangan konsumen tanpa perantara pihak ketiga yang tidak terverifikasi. Kemasan obat pun disegel rapat untuk menjaga privasi pengguna.
Bagi yang baru pertama kali mencoba, berikut alur pembelian obat melalui fitur GoMed:
Kendala yang sering muncul adalah saat membeli obat keras. Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) mewajibkan resep dokter untuk obat-obatan tertentu guna mencegah penyalahgunaan dan resistensi antibiotik.
Pengguna bisa melakukan konsultasi dokter daring melalui Halodoc, mendapatkan resep digital, lalu langsung menebusnya di GoMed tanpa perlu keluar rumah. Riwayat transaksi yang tersimpan juga memudahkan pemantauan penggunaan obat untuk konsultasi di masa depan.
Dengan layanan ini, masyarakat urban yang memiliki mobilitas tinggi tetap bisa memprioritaskan kesehatan tanpa mengorbankan waktu. GoMed menjadi standar baru dalam kefarmasian digital yang mengedepankan keamanan, kecepatan, dan otentikasi produk.