PENAJAM PASER UTARA — Di tengah hiruk-pikuk pembangunan IKN yang kerap identik dengan beton dan alat berat, nama Agus Setiawan muncul sebagai pengingat bahwa lingkungan dan tradisi lokal tak boleh ikut terpinggirkan. Pemuda kelahiran 15 Agustus 1996 ini adalah potret nyata seorang putra daerah yang memilih berjuang dari dalam, bukan meninggalkan kampung.
Agus lahir dan besar di Buluminung, sebuah wilayah yang kini menjadi bagian dari penyangga IKN. Alih-alih terbawa arus urbanisasi atau tergiur proyek-proyek besar yang menjanjikan keuntungan instan, ia justru memilih jalan yang lebih sunyi: menjadi pejuang lingkungan. Gelar Sarjana Kehutanan (S.Hut.) yang disandangnya bukan sekadar formalitas, melainkan senjata untuk menjaga agar pembangunan di tanah kelahirannya tetap berkelanjutan.
Yang membedakan Agus dari aktivis lingkungan pada umumnya adalah pendekatannya yang membumi. Ia tidak hanya bicara soal data dan kebijakan di atas kertas. Agus terjun langsung ke komunitas akar rumput, mengajak warga lokal untuk kembali peduli pada ekosistem yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka. Di tengah deru IKN yang tak bisa dihindari, ia menanamkan ide bahwa kemajuan ekonomi harus sejalan dengan kelestarian alam.
Kisah Agus menjadi penting karena ia adalah representasi dari dilema yang dihadapi banyak warga PPU: antara menikmati "bonus" pembangunan atau menjaga warisan alam. Ia membuktikan bahwa dua hal itu tidak harus bertentangan. Kehadirannya menjadi oase di tengah hiruk-pikuk, sebuah pengingat bahwa pembangunan IKN harus inklusif dan tidak melupakan jasa para penjaga lingkungan dari kampung-kampung.
Agus Setiawan belum menjadi nama besar yang diwawancarai televisi nasional. Namun, di Buluminung, ia adalah bukti bahwa putra daerah bisa menjadi subjek, bukan sekadar objek, dari perubahan besar yang terjadi di tanah mereka sendiri.