KALIMANTAN TIMUR — Bayangkan Anda sedang melaju di jalan raya dengan sepeda motor, lalu tiba-tiba panah petunjuk arah melayang di aspal di depan Anda. Tidak ada ponsel, tidak ada dasbor. Hanya helm dan lensa seukuran kuku jari. Adegan ini bukan konsep fiksi ilmiah — teknologi ini akan mulai hadir di jalanan Eropa tahun ini.
Di balik skenario itu ada LetinAR, startup asal Korea Selatan yang tidak membuat kacamatanya sendiri, melainkan "otak" optik di dalamnya. Perusahaan yang didirikan oleh CEO Jaehyeok Kim dan CTO Jeonghun Ha — dua sahabat sejak SMA — pada 2016 ini fokus pada satu komponen paling krusial: modul lensa yang memproyeksikan gambar langsung ke bidang pandang pengguna.
Tantangan utama industri kacamata pintar selama ini adalah membuat lensa yang tipis, ringan, dan irit baterai, namun tetap mampu menyajikan gambar tajam. Teknologi yang dominan saat ini, waveguide, bekerja seperti TV — menyebarkan cahaya ke seluruh permukaan lensa untuk menghasilkan gambar lebar. Hasilnya lensa tipis, tapi boros daya karena banyak cahaya terbuang sebelum sampai ke mata.
Alternatif lain, sistem cermin birdbath, memang mengirim cahaya lebih langsung ke mata, tapi strukturnya terlalu besar untuk dimasukkan ke bingkai kacamata normal. Di sinilah LetinAR menawarkan jalan tengah lewat teknologi bernama PinTILT.
"Kami melihat kacamata AI sebagai platform berikutnya. Dan modul optik adalah bagian tersulit yang harus benar," kata Kim kepada TechCrunch. "Pembuat kacamata AI akan membutuhkan lensa yang lebih tipis, lebih ringan, dan lebih hemat daya dari yang ada sekarang."
PinTILT bekerja dengan mengatur elemen optik mikroskopis di dalam lensa sedemikian rupa sehingga cahaya diarahkan tepat ke pupil mata pengguna, bukan disebar ke segala arah. Hasilnya, kecerahan gambar lebih tinggi dengan konsumsi daya yang lebih rendah, semua dalam kemasan lensa yang tipis. "Kami hanya memfokuskan pada cahaya yang benar-benar bisa masuk ke mata, dan merekayasa sudut setiap elemen di dalam lensa secara presisi," jelas Ha.
Langkah LetinAR terjadi di saat industri kacamata pintar sedang bergerak cepat. Menurut data Omdia, pengiriman global kacamata AI melonjak ke 8,7 juta unit pada 2025 — naik lebih dari 300 persen dari tahun sebelumnya. Analis memproyeksikan angka itu akan menembus 15 juta unit pada tahun ini.
Raksasa teknologi pun sudah bertaruh besar. Meta telah menjual kacamata Ray-Ban berkemampuan AI sejak 2023. Google membangun platform Android XR. Apple dan Samsung — yang kabarnya akan meluncurkan kacamata AI hasil kolaborasi dengan Gentle Monster pada Juli mendatang — juga ikut meramaikan. Dari China, Huawei, Alibaba, dan Xiaomi tak ketinggalan.
Putaran pendanaan terbaru LetinAR dipimpin Korea Development Bank dan Lotte Ventures, dengan partisipasi investor lain. Menariknya, LG Electronics — yang merupakan investor awal LetinAR — kini dikabarkan mulai mengembangkan kacamata AI-nya sendiri, menurut laporan media lokal. Ini menjadi sinyal seberapa serius raksasa elektronik Korea itu memandang kategori produk ini.
Dengan dana segar di tangan, LetinAR menargetkan pencatatan saham perdana di bursa Korea pada 2027. Pertanyaan besarnya: mampukah teknologi lensa buatan mereka menjadi standar yang dipakai para raksasa teknologi dunia? Jawabannya mungkin akan terlihat dari helm-helm pengendara motor di Eropa beberapa bulan lagi.