PENAJAM PASER UTARA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) resmi mengoperasikan Klinik Pratama Santo Borromeus di kawasan Maridan, Kecamatan Sepaku, Sabtu (2/5/2026). Peresmian ini menjadi langkah konkret pemerintah daerah dalam memperluas jangkauan layanan kesehatan di wilayah yang bersinggungan langsung dengan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Pemkab PPU, Margono Hadisutanto, hadir mewakili Bupati PPU untuk membuka fasilitas tersebut. Kehadiran klinik swasta ini dianggap krusial mengingat pertumbuhan populasi di Sepaku terus meningkat seiring masifnya pembangunan infrastruktur IKN.
Margono menegaskan bahwa pesatnya perkembangan kawasan menuntut kesiapan sistem kesehatan yang lebih tangguh. Pemerintah tidak hanya fokus pada kuantitas gedung, tetapi juga kualitas sumber daya manusia dan sistem rujukan yang terintegrasi.
Dalam sambutan tertulis Bupati PPU, Margono menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk menjamin hak dasar masyarakat. Penambahan fasilitas kesehatan di Sepaku diharapkan dapat memangkas jarak tempuh warga dalam mendapatkan pertolongan medis pertama.
“Hal ini menuntut tidak hanya penambahan fasilitas, tetapi juga jaminan ketersediaan tenaga medis, kelengkapan sarana, serta sistem rujukan yang efektif,” kata Margono.
Ia mengingatkan pengelola klinik agar mengedepankan profesionalisme dalam pelayanan. Kecepatan dan ketepatan penanganan menjadi parameter utama, termasuk komitmen untuk memberikan pelayanan non-diskriminatif kepada seluruh lapisan masyarakat di Penajam Paser Utara.
Ketua Pembangunan Klinik Pratama Santo Borromeus, Frederik Jhon, mengungkapkan bahwa proyek ini memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak survei awal pada 2021. Saat itu, akses infrastruktur di wilayah Maridan dan Sepaku masih sangat terbatas dibandingkan kondisi saat ini.
Inisiasi pembangunan dilakukan oleh Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus. Frederik mengenang bagaimana kondisi lapangan saat itu masih didominasi lahan hutan, namun potensi kebutuhan layanan kesehatan di masa depan sudah terbaca dengan jelas.
“Kami datang saat kondisi masih sangat terbatas, bahkan sebagian wilayah masih berupa hutan. Tapi justru di situ kami melihat kebutuhan yang besar,” ucap Frederik.
Proses konstruksi fisik yang dimulai pada 2024 sempat menghadapi kendala teknis akibat cuaca ekstrem dan kondisi tanah. Meski demikian, dukungan dari masyarakat lokal dan kemudahan koordinasi dengan Pemkab PPU membuat proyek ini tuntas tepat waktu.
Kini, klinik tersebut beroperasi di bawah kepemimpinan dr. Novita sebagai penanggung jawab teknis. Selain memberikan layanan pengobatan kuratif, klinik ini memprioritaskan program edukasi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran pola hidup bersih dan sehat bagi warga sekitar.
Pemkab PPU berharap kehadiran Klinik Santo Borromeus menjadi pemantik bagi sektor swasta lainnya untuk ikut berinvestasi di wilayah penyangga IKN. Fokus utama ke depan adalah memastikan distribusi layanan kesehatan yang merata dan berkelanjutan bagi penduduk asli maupun pendatang.