KALIMANTAN TIMUR — PT Bukit Muria Jaya membangun pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 5,5 MWp di dua fasilitas produksinya, Karawang dan Kudus, bersama mitra pengembang iForte Energi. Langkah ini menjadi bagian dari transisi energi perusahaan sekaligus upaya menekan emisi karbon hingga 6.836 ton CO? per tahun.
Paragraf pembuka: Perusahaan manufaktur ini menempatkan investasi energi terbarukan sebagai bagian dari operasional yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. ESG Lead BMJ Harris C. A. Titus menyatakan, langkah tersebut juga memperkuat daya saing perusahaan dalam menghadapi tantangan industri ke depan.
Rincian Kapasitas di Dua Lokasi
iForte Energi berperan sebagai mitra pengembang sekaligus penyedia solusi energi terbarukan dalam proyek ini. Perusahaan memasang PLTS atap berkapasitas 5.048 kWp di fasilitas BMJ Karawang dan 455 kWp di fasilitas Kudus.
Kedua pembangkit itu menghasilkan energi listrik sebesar 7.596 kWh per tahun. Pemanfaatannya menekan emisi karbon hingga 6.836 ton CO?, setara dengan manfaat lingkungan dari penanaman sekitar 151.918 pohon.
Mengapa PLTS Jadi Pilihan
Pembangkit listrik tenaga surya menjadi alternatif bagi pembangkit listrik tenaga diesel maupun tenaga uap. Panel yang tersusun dari sel fotovoltaik menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik bersih untuk kebutuhan rumah tangga hingga aktivitas komersial.
Proses konversi energi matahari menjadi listrik tidak menghasilkan limbah maupun emisi. Artinya, tidak ada gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer dari operasional pembangkit itu sendiri.
Dari sisi perawatan, infrastruktur PLTS terbilang sederhana karena tidak memerlukan jaringan pipa yang rumit. Sistemnya tetap dapat beroperasi dalam jangka panjang, dengan masa pakai operasional sekitar 25 hingga 30 tahun.
Konteks Transisi Energi Nasional
Transisi energi bukan hal baru dalam perjalanan peradaban. Kayu yang dahulu menjadi sumber energi utama perlahan tergantikan hidrokarbon, minyak mentah, hingga batu bara yang meluas pada pertengahan abad ke-20.
Kini pergeseran mengarah ke sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, air, dan panas bumi. Publikasi Project Clean, Affordable and Secure Energy (CASE) for Southeast Asia tahun 2023 menyebut, transisi energi dipengaruhi sejumlah faktor: komoditas energi, kondisi pasar, situasi geopolitik, hingga dampak penggunaan energi terhadap alam.
Prosesnya tidak berhenti pada penggantian bahan bakar fosil dengan energi bersih. Aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan perlu dipertimbangkan agar perubahan berjalan adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Penutup: Bagi BMJ, pemasangan PLTS di dua pabriknya menjadi cara menekan ketergantungan pada sumber energi konvensional sekaligus menjaga efisiensi di seluruh lini operasional. Langkah serupa berpotensi jadi rujukan bagi industri manufaktur lain yang menghadapi tekanan serupa untuk mengurangi jejak karbon.