PENAJAM — Rencana penanaman 1.000 bibit mangrove oleh Polres Penajam Paser Utara itu akan menyasar tiga titik kawasan pesisir yang dinilai kritis. Langkah ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan sosial menyambut Hari Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada tahun 2026.
Mengapa Polisi Fokus pada Rehabilitasi Mangrove?
Pemilihan program lingkungan ini bukan tanpa alasan. Ekosistem mangrove di pesisir PPU disebut-sebut mengalami degradasi akibat aktivitas manusia dan perubahan garis pantai. Polres PPU ingin menghadirkan kontribusi nyata yang bisa dirasakan langsung oleh warga pesisir, bukan sekadar seremonial.
Penanaman bibit ini diharapkan mampu memperkuat garis pantai, mencegah abrasi, dan menjadi habitat baru bagi biota laut. Bagi warga yang menggantungkan hidup dari hasil laut, keberadaan hutan mangrove yang sehat adalah jaring pengaman ekologis sekaligus ekonomi.
Tiga Titik Lokasi yang Disasar
Meski belum dirinci secara detail oleh pihak kepolisian, ketiga kawasan yang dimaksud berada di sepanjang pesisir Penajam Paser Utara. Pemilihan lokasi kemungkinan besar didasarkan pada tingkat kerusakan mangrove dan urgensi penanganan di titik tersebut.
Polres PPU disebut akan berkoordinasi dengan dinas terkait dan kelompok masyarakat pegiat lingkungan untuk memastikan bibit yang ditanam bisa tumbuh dan dirawat secara berkelanjutan.
Target Jangka Panjang di Balik 1.000 Bibit
Angka 1.000 bibit bukanlah target yang besar untuk skala provinsi, namun bagi Polres PPU, ini adalah langkah awal. Pihak kepolisian berharap program ini bisa menjadi gerakan yang diikuti oleh instansi lain dan masyarakat luas.
Dengan momentum Hari Bhayangkara, Polres PPU ingin menunjukkan bahwa tugas kepolisian tidak hanya soal keamanan dan ketertiban, tetapi juga turut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup di daerah.