SENDAWAR — Progres fisik Jembatan 1 yang membentang di atas Sungai Mahakam, menghubungkan Kecamatan Tering dan Long Bagun, kini telah mencapai titik penentu. Seluruh rangkaian pengujian bore pile untuk memverifikasi daya dukung pondasi dinyatakan tuntas. Hasil uji ini menjadi syarat mutlak sebelum proyek melangkah ke fase pembangunan abutment, yakni struktur penyangga di kedua ujung jembatan.
Mengapa Uji Bore Pile Menjadi Penentu?
Bore pile atau tiang bor merupakan fondasi utama yang menopang seluruh beban jembatan. Proses pengujiannya mencakup uji integritas dan uji pembebanan statik untuk memastikan tidak ada rongga atau retakan di dalam beton yang tertanam puluhan meter ke dalam tanah. Tanpa kepastian dari uji ini, risiko ambles atau retak struktural di masa depan sangat tinggi, terutama di wilayah dengan kontur tanah lunak seperti bantaran Sungai Mahakam.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kutai Barat menyebutkan bahwa hasil uji menunjukkan performa pondasi sesuai spesifikasi teknis. “Kami pastikan seluruh parameter kekuatan terpenuhi. Ini modal utama untuk melanjutkan ke pekerjaan abutment,” ujarnya dalam laporan perkembangan proyek pekan lalu.
Tahapan Selanjutnya: Abutment dan Bangunan Atas
Setelah pondasi dinyatakan laik, proyek segera bergerak ke pembangunan abutment di sisi Tering dan Long Bagun. Abutment berfungsi sebagai dinding penahan tanah sekaligus landasan bagi gelagar jembatan. Pengerjaan struktur ini biasanya memakan waktu 2-3 bulan, tergantung kondisi cuaca dan pasokan material ke lokasi yang berada di pedalaman Kutai Barat.
Setelah abutment rampung, tahapan berikutnya adalah pemasangan gelagar baja dan pengecoran plat lantai jembatan. Jembatan 1 ini merupakan bagian dari rangkaian tiga jembatan yang direncanakan untuk memutus isolasi di kawasan hulu Mahakam, menggantikan sistem feri yang kerap terhenti saat musim kemarau karena permukaan air sungai surut.
Dampak bagi Warga Tering dan Long Bagun
Keberadaan jembatan tetap ini dinanti oleh sekitar 15.000 jiwa di dua kecamatan. Selama ini, warga harus mengandalkan kapal feri dengan waktu tempuh 30-45 menit untuk menyeberang, atau memutar melalui jalur darat yang mencapai 3 jam perjalanan. Kepala Desa Tering Baru, Andi Patawari, mengatakan bahwa aktivitas ekonomi dan akses pendidikan anak-anak sekolah sangat terganggu setiap kali feri mengalami gangguan teknis. “Kalau jembatan jadi, ongkos logistik turun drastis. Pupuk untuk sawit dan karet bisa masuk tanpa menunggu kapal,” katanya.
Target dan Kendala di Lapangan
Pemkab Kutai Barat menargetkan penyelesaian Jembatan 1 pada akhir 2026, bertepatan dengan tahun terakhir masa jabatan bupati saat ini. Namun, tantangan klasik berupa cuaca ekstrem dan medan berat di hulu Mahakam masih membayangi. Pekerjaan pondasi yang baru rampung sempat tertunda dua pekan akibat tingginya debit air sungai yang membanjiri lokasi pengeboran.
Kontraktor pelaksana kini menyiagakan peralatan tambahan dan material cadangan di base camp agar pekerjaan abutment tidak kembali terhambat. Pengawasan dari tim konsultan pengawas juga diperketat pada setiap sambungan besi tulangan dan mutu beton yang digunakan.