KALIMANTAN TIMUR — Komitmen investasi asing langsung (FDI) terdaftar ke Vietnam menembus USD54,85 miliar atau setara Rp985 triliun sepanjang Januari–Oktober 2026. Nilai itu melonjak 74% secara tahunan dan menjadi rekor tertinggi dalam 17 tahun terakhir, dengan manufaktur sebagai penopang utama.
Badan Pusat Statistik Vietnam mencatat angka tersebut per 31 Oktober 2026, memakai kurs Rp17.974 per dolar AS. Lonjakan terjadi di tengah gelombang relokasi rantai pasok manufaktur yang masih mengalir deras ke Asia Tenggara.
Dari sisi komitmen baru, Vietnam mengantongi izin untuk 3.478 proyek dengan total nilai USD30,73 miliar. Nilai itu lebih dari 2,2 kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sektor industri pengolahan dan manufaktur memimpin perolehan izin baru dengan USD14,61 miliar, atau 47,5% dari total komitmen proyek baru. Posisi ini menegaskan posisi Vietnam sebagai basis produksi regional, bukan sekadar tujuan investasi properti.
Realisasi FDI yang benar-benar cair ke ekonomi Vietnam mencapai USD24,08 miliar atau sekitar Rp432,8 triliun. Angka ini naik 13,1% dibanding tahun sebelumnya, menandakan komitmen di atas kertas berjalan menjadi belanja modal riil.
Manufaktur menyerap 82,9% dana cair tersebut, setara USD19,96 miliar. Sektor real estat menerima USD1,76 miliar, sementara pengadaan listrik dan gas mengantongi USD785,2 juta.
Singapura memimpin daftar investor dengan komitmen USD9,52 miliar, atau 31% dari total komitmen baru. Korea Selatan menyusul di posisi kedua dengan USD5,81 miliar.
Di bawahnya ada Luksemburg dengan USD4,99 miliar, Hong Kong USD3,57 miliar, dan China USD2,77 miliar. Komposisi ini menunjukkan modal Asia Timur tetap mendominasi, dengan Luksemburg muncul sebagai jalur investasi yang lazim dipakai dana global.
Raksasa manufaktur Korea Selatan Samsung Electro-Mechanics mengumumkan penambahan investasi sekitar 2,51 triliun Won atau USD1,88 miliar ke anak usahanya di Vietnam. Dana itu dipakai memperluas produksi substrat semikonduktor flip-chip ball grid array (FC-BGA).
Ekspansi pemasok komponen semikonduktor ini memperkuat rantai nilai elektronik Vietnam. Selama ini Vietnam sudah menjadi lokasi pabrik perakitan ponsel dan elektronik konsumen dari sejumlah merek global.
Bagi pelaku industri dalam negeri, rekor FDI Vietnam menjadi pembanding langsung dalam perebutan modal asing di kawasan. Sektor manufaktur padat karya dan elektronik menjadi medan persaingan paling ketat, terutama untuk investor yang memilih lokasi pabrik baru di Asia Tenggara.
Bagi investor pasar modal, derasnya modal ke Vietnam tercermin pada ekspansi kapasitas produksi korporasi regional. Perusahaan pemasok komponen yang beroperasi di Vietnam berpotensi mencatat kenaikan volume penjualan seiring berjalannya proyek-proyek baru.
Pemerintah Vietnam sendiri belum merinci target FDI untuk 2027. Namun laju 10 bulan pertama tahun ini sudah melampaui capaian periode serupa pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga posisi Vietnam sebagai magnet investasi kawasan diperkirakan bertahan hingga akhir tahun.