KALIMANTAN TIMUR — CEO Ferrari Benedetto Vigna memberi nilai sempurna 10 dari 10 untuk Tesla Roadster, mobil yang baru akan diproduksi pada 2028. Pujian itu datang saat Ferrari sendiri masih berjuang meyakinkan pasar atas mobil listrik pertamanya, dalam konferensi otomotif majalah Quattroruote, Selasa (20/10/2026).
Vigna menilai peluncuran Roadster pantas mendapat angka 10 untuk sisi teknologi dan 10 lagi untuk presentasi. Penilaian tersebut ia sampaikan di hadapan forum otomotif Italia, bukan dalam rilis resmi Ferrari.
Yang membuat pujian ini menarik: Vigna memuji produk yang belum masuk jalur produksi. Tesla baru menargetkan Roadster keluar dari lini perakitan pada 2028.
Dalam sesi konferensi yang digelar Quattroruote dan dikutip Fox Business, Vigna menempatkan dirinya sebagai orang Eropa yang mengapresiasi keberanian Tesla. Ia menyebut demonstrasi Roadster sebagai bukti bahwa inovasi masih bisa lahir dari kawasan yang kerap dianggap konservatif.
”Sebagai orang Eropa, terima kasih telah menunjukkan bahwa, bahkan di dunia lama, kita masih bisa berinovasi dan berani,” ujar Vigna.
Pernyataan itu bernada diplomatis. Ferrari sendiri belum punya mobil listrik murni di jalan raya, sementara Tesla sudah menjual EV massal sejak lebih dari satu dekade lalu.
Tesla memperkenalkan Roadster lewat aksi di lokasi uji coba SpaceX di McGregor, Texas, Amerika Serikat. Mobil sport itu tampil terbang, berputar di udara, dan melesat dari nol ke sekitar 96,5 km/jam dalam waktu kurang dari satu detik.
Angka akselerasi itu diklaim berkat pendorong atau thruster yang dikembangkan bersama SpaceX. Elon Musk, yang memimpin kedua perusahaan, menyatakan produksi dimulai pada 2028.
Purwarupa Roadster pertama kali diperlihatkan pada 2017. Saat itu Tesla menjanjikan pengiriman mulai 2020.
Produksi yang baru bergulir pada 2028 berarti mundur delapan tahun dari tenggat awal. Jeda sepanjang itu jadi catatan penting bagi calon pembeli yang menaruh uang berdasarkan janji peluncuran.
Pasar merespons positif dalam jangka pendek. Saham Tesla sempat menguat ke USD373,71 atau sekitar Rp6,69 juta, naik 1,54 persen seusai peluncuran.
Analis keuangan tetap mengingatkan bahwa pengiriman masih jauh di depan. Kenaikan saham harian tidak menghapus risiko eksekusi produksi yang belum terbukti.
Roadster bukan produk yang bakal masuk pasar Indonesia dalam waktu dekat. Target produksi 2028 dan statusnya sebagai mobil sport ultra-premium membuatnya lebih relevan sebagai tolok ukur teknologi ketimbang pilihan konsumen.
Bagi penggemar otomotif lokal, nilai pujian Vigna terletak pada pengakuan bahwa pendekatan thruster dan aerodinamika aktif mulai dianggap serius oleh pabrikan tradisional. Ferrari dan merek Eropa lain kemungkinan menempuh jalur berbeda, tetapi arah pengembangannya jelas mengarah ke performa listrik ekstrem.
Yang belum terjawab: apakah Roadster versi produksi benar-benar mempertahankan kemampuan terbang dan akselerasi yang dipamerkan di Texas, atau sebagian fitur itu hanya bertahan di tahap prototipe.