PASER — Kecamatan Batu Engau menghadapi bencana ganda: kemarau panjang dan kebakaran lahan. Dari 13 desa di wilayah itu, hanya Desa Bai Jaya dan Desa Langgai yang pasokan airnya masih relatif aman. Dua desa ini menjadi pengecualian di tengah mengeringnya embung-embung desa dan menyusutnya debit air baku Sungai Kerang.
Camat Batu Engau, Agah Yudhistira Putra, menyebut luasan karhutla di wilayahnya merupakan yang terbesar kedua di Kabupaten Paser setelah Kecamatan Tanah Grogot. Data BPBD Kabupaten Paser mencatat karhutla di Batu Engau mencapai 300-an hektare.
Pemkab Paser menerjunkan armada tangki pemadam kebakaran untuk menyuplai air bersih. Distribusi dilakukan bergilir karena keterbatasan armada. Hingga kini, 150 tangki air bersih telah disalurkan ke warga di 11 desa terdampak.
"Sejauh ini kami sudah menyuplai 150 tangki air bersih untuk warga di 11 desa terdampak. Karena keterbatasan armada, distribusi gratis ini kami jadwalkan," kata Agah.
Selain pasokan mobil tangki, pihak kecamatan membuat bendung manual di aliran Sungai Kerang. Upaya ini menjaga air baku PDAM tetap dapat diolah dan disalurkan secara gilir ke rumah warga. Air kerap baru mengalir pada malam hari.
Perusahaan swasta di sekitar wilayah diminta membuka akses embung dan bak penampungan air milik mereka bagi warga.
Satgas Bencana siaga 24 jam dalam dua shif untuk menangani titik api karhutla. Namun, pemadaman di lapangan terkendala akses geografis dan terbatasnya sumber air. Lokasi kebakaran tidak bisa diakses kendaraan.
Petugas harus berjalan kaki antara satu hingga dua jam menuju lokasi kebakaran. Kondisi ini memperlambat proses pemadaman di titik-titik yang jauh dari jalan utama.
Agah menjelaskan pihak kecamatan bersama pemerintah desa dan perusahaan swasta telah melakukan langkah mitigasi sejak pertengahan Agustus 2026. Kemarau panjang membuat upaya itu tak cukup menahan krisis air.
"Jika prediksi BMKG benar bahwa hingga November hujan baru turun, kondisi warga akan semakin sulit. Kami fokus pada distribusi air bersih sambil berharap hujan segera turun," ujar dia.
Pemerintah kecamatan memprioritaskan distribusi air bersih sembari menunggu hujan turun. Warga di 11 desa terdampak masih bergantung pada pasokan tangki dan aliran gilir PDAM untuk kebutuhan dasar sehari-hari.