KALIMANTAN TIMUR — CEO DBS Group Tan Su Shan memperingatkan perkembangan kecerdasan buatan berpotensi memperlebar ketimpangan ekonomi antara kelompok kaya dan miskin jika adopsi teknologi tidak dibarengi dukungan bagi masyarakat yang tertinggal. Peringatan itu disampaikan dalam konferensi perdana DBS Asia Future Forward Conference di Singapura yang dihadiri sekitar 700 nasabah korporasi dan wealth management.
Tan Su Shan menilai kemajuan AI telah membuka akses pengetahuan yang jauh lebih luas bagi masyarakat. Namun, kemudahan itu membawa risiko baru: manfaat AI cenderung terkonsentrasi pada kelompok yang punya kemampuan dan akses untuk memanfaatkannya secara optimal.
"Pengetahuan berbentuk huruf 'K'. Ini juga membawa ketimpangan yang semakin lebar dengan pola serupa," kata Su Shan dalam forum tersebut.
Su Shan menyebut kondisi tersebut sebagai paradoks perkembangan AI. Di satu sisi, teknologi ini memungkinkan lebih banyak orang mengakses pengetahuan. Di sisi lain, keuntungannya berpotensi hanya dinikmati mereka yang sudah memiliki kemampuan teknis.
Dampaknya ke pasar kerja menjadi perhatian tersendiri. Menurut Su Shan, dunia akan menghadapi kondisi di mana yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin miskin.
"Mereka yang mampu memanfaatkan AI dengan baik akan meraih kesuksesan," ujarnya.
Karena itu, ia mempertanyakan bagaimana masyarakat yang belum mampu memanfaatkan AI dapat dibantu menggunakan perangkat untuk keluar dari kemiskinan dan naik ke kelas menengah. Tantangan terpenting bukan sekadar kecepatan teknologi berkembang, melainkan memastikan manfaatnya dirasakan lebih luas tanpa memperburuk ketimpangan sosial.
Su Shan juga menyoroti percepatan peluncuran model AI baru yang memaksa organisasi beradaptasi cepat. Tantangannya mencakup risiko siber hingga kebutuhan mempelajari teknologi baru secara berkelanjutan.
Ia menekankan perusahaan tidak cukup hanya menambahkan AI ke dalam proses bisnis yang ada. Alur kerja dan proses operasional perlu dipikirkan ulang agar teknologi tersebut menghasilkan manfaat lebih besar.
"Sekadar menerapkan AI saja tidak cukup. Kami menyebutnya AI lipstick. Pendekatan seperti ini tidak akan berhasil," kata Su Shan.
Soal tata kelola, ia menilai kepercayaan harus dibangun melalui kebijakan, prosedur, dan pengawasan yang memadai. Agen AI perlu beroperasi dengan kendali dan tata kelola jelas agar tidak bertindak tanpa batasan. Kerja sama lintas industri serta penguatan regulasi disebutnya sebagai syarat agar AI digunakan dengan cara yang tepat.
Di sisi lain, Pendiri Microsoft Bill Gates dan Gates Foundation berencana menghabiskan setidaknya US$ 1 miliar dalam dua tahun ke depan untuk memperluas akses terhadap AI. Dana tersebut bagian dari rencana pengeluaran yayasan sebesar US$ 9 miliar per tahun, dan akan disalurkan ke mitra di bidang pendidikan, perawatan kesehatan, serta pertanian.
Yayasan Gates juga bertujuan membangun fondasi data yang menjadi dasar AI, salah satunya dengan memastikan model bahasa besar dapat berfungsi dalam setiap bahasa yang digunakan masyarakat. Gates berharap AI dapat mempersempit kesenjangan antara kelompok terkaya dan termiskin, bukan memperlebarnya.
Menurut Gates, manfaat tersebut bergantung pada bagaimana teknologi AI dikelola dan seberapa merata akses terhadapnya. Rencana pengeluaran US$ 1 miliar itu menjadi bagian dari upaya yayasan memastikan AI memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
DBS Bank mempertemukan sejumlah pemimpin global di bidang teknologi, bisnis, dan investasi dalam konferensi perdana DBS Asia Future Forward Conference di Singapura. Forum ini membahas peluang ekonomi AI, mulai dari pengembangan infrastruktur, perubahan model bisnis, hingga arah investasi di era AI.
Konferensi yang dihadiri sekitar 700 nasabah korporasi dan wealth management itu menjadikan AI sebagai fokus utama. Teknologi ini dinilai tengah mengubah industri, model bisnis, dunia kerja, serta pola penciptaan nilai dan arus modal.