Bupati Kutim Dorong Bahasa Kutai Diwariskan Lintas Generasi agar Tak Tergerus Teknologi

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Senin, 12 Oktober 2026 | 10:49:02 WIB
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mendorong pelestarian bahasa Kutai agar diwariskan lintas generasi.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mendorong pelestarian bahasa daerah Kutai sebagai identitas yang harus diwariskan kepada generasi muda di Sangatta. Menurutnya, bahasa ibu menyimpan nilai sejarah, kearifan lokal, dan tata krama yang terbentuk dari perjalanan panjang komunitas Kutai. Upaya ini dinilai perlu dimulai dari keluarga, diperkuat sekolah, dan didukung kegiatan kebudayaan di masyarakat.

SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menempatkan bahasa Kutai sebagai bagian dari upaya menjaga identitas daerah sekaligus memperkuat karakter masyarakat di tengah perkembangan zaman. Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyampaikan hal tersebut di Sangatta, dengan menekankan bahwa bahasa dan budaya Kutai tidak boleh tergerus perubahan sosial dan teknologi.

Menurut Ardiansyah, bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi sehari-hari. Di dalamnya tersimpan nilai sejarah, kearifan lokal, tata krama, dan cara pandang masyarakat yang terbentuk dari perjalanan panjang suatu komunitas.

Mengapa Bahasa Kutai Perlu Diwariskan Sejak Dini

Pelestarian bahasa Kutai dinilai perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua memiliki peran penting mengenalkan bahasa daerah kepada anak sejak dini agar penggunaannya tetap hidup dalam keseharian.

Dukungan sekolah dan pemerintah daerah juga dibutuhkan. Tujuannya agar generasi muda tidak hanya mengenal bahasa Kutai sebagai warisan leluhur, tetapi mampu menggunakannya sebagai bagian dari identitas mereka.

"Bahasa dan budaya Kutai adalah identitas sehingga perlu dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perubahan sosial dan perkembangan teknologi," ujar Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di Sangatta, Ahad.

Bahasa Daerah dan Arus Informasi Global

Di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang semakin luas, penggunaan bahasa Indonesia maupun bahasa asing menjadi kebutuhan. Namun hal itu tidak semestinya membuat masyarakat meninggalkan bahasa ibu yang menjadi salah satu penanda kekayaan budaya daerah.

Ardiansyah menilai pelestarian bahasa Kutai dapat berjalan beriringan dengan pengembangan seni, tradisi, dan kegiatan kebudayaan. Melalui berbagai ruang ekspresi tersebut, generasi muda dapat mempelajari bahasa daerah secara lebih dekat dan menarik.

"Pelestarian bahasa Kutai juga dapat berjalan beriringan dengan pengembangan seni, tradisi, dan kegiatan kebudayaan. Melalui berbagai ruang ekspresi tersebut, generasi muda dapat mempelajari bahasa daerah secara lebih dekat dan menarik," katanya.

Menjaga Hubungan Antargenerasi lewat Cerita Rakyat dan Pantun

Selain menjaga identitas, keberadaan bahasa ibu turut memperkuat hubungan antargenerasi. Pengetahuan lokal yang tersimpan dalam ungkapan, cerita rakyat, pantun, dan tradisi lisan dapat diteruskan sehingga tidak terputus bersama berkurangnya penutur bahasa daerah.

Bupati juga mendorong pelibatan komunitas budaya, tokoh adat, tenaga pendidik, dan keluarga dalam membangun lingkungan yang mendukung penggunaan bahasa Kutai.

Pelestarian bahasa ibu dinilai bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau kelompok adat, melainkan gerakan bersama masyarakat. Keberhasilan upaya tersebut bergantung pada kemauan generasi muda untuk mengenal, menuturkan, dan meneruskan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

"Melalui langkah ini, bahasa Kutai dapat tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, sekaligus memperkuat identitas budaya Kutim dalam pembangunan yang terus berkembang," katanya.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: kaltim.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top