Inflasi Kaltim September 2026 Capai 3,98 Persen, Cabai Rawit dan Sayur Jadi Pemicu Utama

Penulis: Endra Sanjaya  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 06:46:02 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Jajang Hermawan, menyampaikan capaian inflasi Kaltim hingga September 2026.

SAMARINDA — Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Jajang Hermawan, menyatakan inflasi tahun kalender Kaltim hingga September 2026 mencapai 2,82 persen (ytd). Angka itu melengkapi capaian inflasi bulanan 0,18 persen (mtm) dan tahunan 3,98 persen (yoy) berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK).

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya. Jajang menyebut tekanan pada kelompok pangan berasal dari terbatasnya pasokan komoditas dari sentra produksi.

Cabai Rawit hingga Jagung Manis Dorong Kenaikan Harga

Komoditas dengan kenaikan harga tertinggi adalah cabai rawit, bayam, kangkung, tomat, dan jagung manis. Lonjakan ini terjadi di hampir seluruh daerah pembentuk IHK Kaltim.

Samarinda mencatat inflasi bulanan 0,09 persen, Balikpapan 0,08 persen, Berau 0,61 persen, dan Penajam Paser Utara 0,52 persen. Berau dan Penajam Paser Utara tercatat sebagai daerah dengan tekanan inflasi paling kuat.

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga dan menahan laju inflasi. Ikan layang, angkutan udara, ikan tongkol, bahan bakar rumah tangga, dan daging ayam ras menjadi komoditas pengendali inflasi di Kaltim.

El Nino Kerek Harga Pangan di Sentra Produksi

Jajang menjelaskan bahwa cuaca ekstrem dan fenomena El Nino berdampak langsung pada produktivitas hortikultura dan pangan. Pasokan cabai dan beras dari sentra produksi menurun sehingga harga di pasar ikut terdorong naik.

"Tekanan pada kelompok makanan, minuman dan tembakau berdampak pada terbatasnya pasokan sejumlah komoditas pangan dari sentra produksi akibat kondisi cuaca dan fenomena El Nino," ujarnya.

Kondisi ini membuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kaltim memperkuat langkah stabilisasi harga melalui strategi 4K. Strategi tersebut mencakup Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Gerakan Pangan Murah dan Beras SPHP di Enam Daerah

Untuk menjaga keterjangkauan harga, TPID menggelar Gerakan Pangan Murah dan menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Program ini berjalan di Samarinda, Berau, Kutai Kartanegara, Bontang, Kutai Barat, dan Kutai Timur.

Penyaluran beras SPHP hingga September 2026 sudah mencapai 80 persen dari target. Produksi pangan juga didorong lewat teknologi pertanian modern dan optimalisasi pompa portabel di lahan yang terdampak kekeringan.

Dari sisi distribusi, TPID memperkuat koordinasi lintas sektor dengan menghubungkan stok BBM dan LPG di SPBU. Perbaikan akses jalan darat ke Mahakam Ulu juga didorong untuk memperlancar arus barang.

Rapat Koordinasi Mingguan dan Mitigasi Dini ke Depan

Komunikasi efektif dilakukan melalui rapat koordinasi mingguan bersama Kemendagri dan laporan pemantauan dini inflasi di forum TPID. Langkah ini untuk memastikan respons terhadap gejolak harga berjalan cepat.

Ke depan, TPID se-Kaltim akan memperkuat mitigasi dini melalui strategi 4K dan Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS). Program itu diarahkan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus daya beli masyarakat di tengah tekanan cuaca yang belum mereda.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: eksposkaltim.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top