KALIMANTAN TIMUR — Komentar Albanese kepada New York Times bulan lalu menjadi sinyal paling jelas bahwa pemerintahan Buruh mulai meninggalkan sikap hati-hati terhadap Beijing. Ia menyatakan China "tertarik meningkatkan pengaruhnya, dan dalam jangka panjang, hegemoni". Ini adalah pertama kalinya Albanese berbicara terbuka tentang ambisi strategis China sejak menjabat.
Pekan lalu, Beijing menguji rudal berkemampuan nuklir di Samudra Pasifik dan memberi tahu Canberra hanya beberapa jam sebelumnya. Albanese menyebut tindakan itu "provokatif". Pernyataan ini kontras dengan sikapnya setahun lalu ketika kapal riset China muncul di lepas pantai Australia—saat itu ia hanya berujar "lebih suka" kapal tersebut tidak berada di sana.
Uji coba rudal itu bertepatan dengan penandatanganan pakta pertahanan baru Australia dengan Fiji, menyusul kesepakatan serupa dengan Papua Nugini dan Vanuatu serta pengaturan kepolisian dengan Kepulauan Solomon dan Tuvalu.
Pendekatan Albanese sebelumnya memang membuahkan hasil nyata. Pemerintahannya membuang narasi "mendorong mundur" warisan PM Scott Morrison dan menggantinya dengan retorika "keterlibatan konstruktif". Beijing merespons dengan mencabut embargo bertahap atas ekspor Australia—anggur, barley, batu bara, dan terakhir lobster pada Desember 2024.
Yang menarik, ekspor Australia ke China justru hampir dua kali lipat selama periode sanksi: dari US$116 miliar pada 2017 menjadi US$218 miliar pada 2023. Perdagangan bijih besi tetap menjadi tulang punggung kemakmuran Australia selama tiga dekade terakhir, dan tidak ada pihak yang berani menjadikannya alat tekanan.
Editorial Global Times edisi Juli menilai komentar Albanese "mengingatkan pada periode tidak menyenangkan dalam hubungan Australia-China beberapa tahun lalu". Namun perubahan sikap Canberra tidak terjadi dalam ruang hampa.
Tekanan dari Washington terus menguat. Trump yang kembali berkuasa mendorong sekutu-sekutunya untuk lebih tegas terhadap Beijing. Australia, tidak seperti sekutu AS lain di Asia, menaruh seluruh taruhan strategisnya pada Pax Americana—ketergantungan pada payung keamanan AS di kawasan Indo-Pasifik.
Kunjungan pemimpin kedua negara yang sempat terhenti sejak 2017 kini kembali berjalan. Namun pernyataan Albanese yang menyebut ambisi China sebagai "hegemoni" menunjukkan batas toleransi Canberra terhadap ekspansi militer Beijing di Pasifik.
Belum jelas apakah retorika baru ini akan memicu sanksi ekonomi baru dari China. Yang pasti, keseimbangan yang dibangun Albanese selama dua tahun—menstabilkan hubungan sambil memperkuat aliansi pertahanan dengan negara-negara Pasifik—kini menghadapi ujian paling serius sejak ia menjabat.