SAMARINDA — Proyek peningkatan jalan poros yang menghubungkan Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah memasuki fase baru. Metode pengecoran rigid atau beton kaku kini diterapkan untuk menggantikan lapisan aspal yang cepat rusak di jalur tersebut.
Jalur ini merupakan urat nadi distribusi barang dan jasa antara dua provinsi. Kondisinya yang kerap rusak selama musim hujan membuat biaya angkut membengkak, terutama untuk truk pengangkut sembako dan bahan bakar.
Pemprov Kaltim memilih rigid pavement karena daya tahannya lebih lama dibandingkan aspal hotmix. Beton kaku dinilai lebih kuat menahan beban truk berat yang melintas setiap hari di jalur tersebut.
“Kontraktor sudah mulai melakukan pengecoran di segmen-segmen prioritas. Targetnya, pengerjaan rampung lebih cepat dari jadwal awal,” ujar Kepala Dinas PUPR Kaltim dalam keterangan resmi, pekan lalu.
Perbaikan jalur ini diproyeksikan memangkas waktu tempuh distribusi hingga beberapa jam. Pemangkasan waktu ini berdampak langsung pada biaya logistik yang selama ini menjadi komponen utama harga barang di daerah terpencil.
Selama ini, biaya angkut dari Samarinda ke perbatasan Kalteng bisa dua kali lipat lebih mahal saat musim hujan karena truk harus memutar lewat jalur alternatif yang lebih panjang. Dengan jalan rigid, risiko truk mogok atau tergelincir di lumpur berkurang signifikan.
Pekerjaan difokuskan pada ruas yang paling kritis, yaitu segmen yang menghubungkan Kecamatan Muara Wahau ke perbatasan Kabupaten Mahakam Ulu. Segmen ini dikenal sebagai titik paling rawan longsor dan ambles.
Pemprov Kaltim mengalokasikan anggaran khusus untuk percepatan proyek ini dari APBD Perubahan. Selain rigid beton, sejumlah jembatan kecil di sepanjang jalur juga akan diperkuat.
Lancarnya distribusi logistik diharapkan mendorong aktivitas ekonomi di kawasan perbatasan. Harga semen, pupuk, dan bahan pokok yang selama ini tinggi di pedalaman diprediksi bisa lebih stabil.
Para pengusaha angkutan di Samarinda menyambut baik langkah ini. Mereka menilai perbaikan jalan rigid akan memperpanjang usia kendaraan dan mengurangi biaya perawatan yang selama ini membebani ongkos kirim.
Pemprov Kaltim menargetkan seluruh pengerjaan di jalur vital ini selesai sebelum akhir tahun anggaran. Setelah itu, pemeliharaan rutin akan dilakukan untuk memastikan kualitas beton tetap terjaga.