KALIMANTAN TIMUR — Laporan terbaru Rystad Energy yang dikutip dari Asian Power, Selasa (16/6/2026), mengungkapkan bahwa Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan menjadi negara dengan tambahan permintaan batu bara terbesar. Disusul oleh Vietnam, Thailand, dan Filipina. Alih-alih membangun PLTU baru, negara-negara ini memilih mengoptimalkan kapasitas pembangkit yang sudah ada untuk menutup defisit pasokan gas.
Di Jepang, pergeseran energi ini sangat terlihat. Pembangkitan listrik berbahan bakar batu bara tercatat naik 11 persen, sementara produksi listrik berbasis gas justru turun hingga 13 persen. Rystad Energy menilai langkah ini merupakan respons langsung terhadap berkurangnya pasokan LNG dan harga gas yang masih tinggi di pasar internasional.
Data impor juga menunjukkan tekanan yang sama. Pada Mei lalu, impor batu bara Korea Selatan melonjak lebih dari 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara Jepang mencatat kenaikan impor lebih dari 20 persen. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa ketergantungan pada batu bara kembali menguat di kawasan yang selama ini gencar melakukan transisi energi.
“Gangguan pada infrastruktur energi di Timur Tengah telah memperketat pasokan LNG global dan menyebabkan peningkatan penggunaan batu bara dalam jangka pendek di sistem kelistrikan Asia Pasifik,” tulis Rystad Energy dalam laporannya. Kondisi ini menjadi dilema bagi negara-negara pengimpor energi yang harus memilih antara komitmen iklim dan keandalan pasokan listrik.
Bagi Indonesia, tren ini bisa menjadi angin segar di tengah lesunya harga komoditas. Sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar dunia, lonjakan permintaan dari Jepang dan Korea Selatan berpotensi meningkatkan volume ekspor dalam beberapa bulan ke depan. Namun, di sisi lain, situasi ini juga mengingatkan kembali akan rapuhnya ketahanan energi nasional jika masih bergantung pada bahan bakar fosil impor.