Rita mengungkapkan Kenny dan Kelly dalam kondisi baik. Keduanya sempat menghabiskan waktu cukup lama di Australia sebelum kembali ke Indonesia.
Kedua putrinya kini telah beranjak dewasa dan mulai belajar mandiri melalui berbagai pekerjaan yang mereka jalani. “Kenny Kelly baik-baik aja, mereka kemarin lama di Australia. Sekarang mereka sudah besar, sudah 20 tahun, mereka kerja-kerja freelance gitu,” ujar Rita saat ditemui awak media di Tenggarong.
Pernyataan ini sekaligus menjawab rasa penasaran masyarakat yang selama ini mengikuti perjalanan keluarga Rita. Kenny dan Kelly sempat menjadi sorotan publik ketika aktif di dunia hiburan nasional sebagai anggota grup musik cilik Lollipop pada awal dekade 2010-an. Grup itu juga diperkuat oleh Aaliyah Massaid, putri penyanyi Reza Artamevia dan mendiang Adjie Massaid.
Di balik cerita mengenai Kenny dan Kelly, Rita tak dapat menyembunyikan rasa harunya saat kembali menginjakkan kaki di Kukar setelah sekitar satu dekade. Ia mengaku tidak menyangka akan mendapat sambutan sebesar itu dari masyarakat.
“Gila terharu, gila. Aku lihat mereka nyiap-nyiapin spanduk lah, kalau ada Bunda, Mitra Kukar Jaya lagi. Aduh, sedihnya. Ya Allah,” terangnya.
Sambutan itu mengingatkannya pada berbagai momen emosional yang pernah terjadi pada masa kepemimpinan ayahnya, almarhum Syaukani HR, yang akrab disapa Pak Kaning. Rita mengaku momen paling menguras emosinya terjadi ketika melintasi Jembatan Kutai Kartanegara, ikon daerah tersebut. “Dibuat seperti zamannya Pak Kaning itu nangis-nangis, sedih-sedih. Aduh kacau-kacau,” katanya.
Perempuan kelahiran 7 November 1973 ini menceritakan bagaimana dirinya sempat berusaha menyembunyikan identitas selama perjalanan dari Jakarta menuju Kalimantan Timur. Sejak berada di bandara hingga selama penerbangan, Rita sengaja tidak membuka masker yang dikenakannya.
“Waktu dari masuk pesawat sampai di dalam pesawat, saya enggak pernah buka masker, saya tutup. Biasa kan, saya suka nyamar. Maksudnya biar enggak kelihatan orang,” tuturnya.
Awalnya, Rita mengira kepulangannya hanya akan diketahui oleh beberapa kerabat dan sahabat dekat. Namun sesampainya di Simpang Pos Patung Lembuswana, ia mulai melihat banyak warga yang telah menunggu. Bahkan sejumlah simpatisan telah bersiap mengawal perjalanannya menuju Tenggarong menggunakan sepeda motor, dan iring-iringan kendaraan terus bertambah sepanjang perjalanan.