Menurut catatan Sri Puji Astuti, ribuan ruang kelas rusak tersebar di sejumlah sekolah, terutama jenjang SD di wilayah pinggiran Samarinda. Kerusakan bervariasi: atap bocor, plafon roboh, hingga bangunan terendam banjir saat musim hujan.
“Beberapa sekolah dilaporkan kerap menghadapi masalah atap bocor, plafon roboh, terendam banjir, hingga akses jalan menuju sekolah yang rusak parah,” ungkap Puji, Jumat (12/6/2026).
Ia menambahkan, akses jalan rusak parah menuju sekolah menjadi kendala tersendiri bagi siswa dan tenaga pendidik. Kondisi ini dinilai mengganggu konsentrasi belajar dan menurunkan kualitas pembelajaran secara langsung.
Puji mendorong hasil TKA tidak hanya dilihat sebagai angka, melainkan dipetakan per sekolah. Dengan begitu, sekolah dengan nilai rendah bisa diketahui penyebab pastinya.
“Kalau ada daerah yang nilainya masih rendah, kita bisa cari penyebabnya. Apakah gurunya kurang, fasilitasnya belum memadai, atau akses ke sekolah yang masih sulit? Dari situ baru bisa dicarikan solusinya,” kata politisi DPRD Samarinda itu.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan adalah kombinasi dari kompetensi tenaga pendidik, fasilitas memadai, dan lingkungan belajar yang nyaman. Nilai akademik yang baik tidak boleh membuat pemerintah lengah terhadap persoalan infrastruktur yang menumpuk.
Meski mengapresiasi capaian TKA yang menggembirakan, Puji mengingatkan agar Dinas Pendidikan dan Pemkot Samarinda tidak berpuas diri. Ia menekankan peningkatan mutu pendidikan harus dibarengi perbaikan fasilitas fisik sekolah.
“Bersyukur tentu saja karena nilai TKA bagus. Tetapi jangan sampai karena hasilnya baik, lalu kita merasa semua persoalan pendidikan sudah selesai. Masih banyak yang harus dibenahi,” tegasnya.
Ia berharap pemetaan hasil TKA bisa menjadi dasar bagi Pemkot Samarinda untuk mengalokasikan anggaran perbaikan sekolah secara lebih tepat sasaran, terutama di daerah pinggiran yang paling membutuhkan perhatian.