Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.650 per Liter, Warga Balikpapan Ramai-Ramai Beralih ke Pertalite

Penulis: Dimas Prasetyo  •  Kamis, 11 Juni 2026 | 15:23:01 WIB
Antrean panjang terlihat di SPBU Gunung Guntur Balikpapan setelah harga Pertamax naik.

BALIKPAPAN — Antrean kendaraan roda dua dan empat mengular di SPBU Gunung Guntur, Balikpapan Tengah, sejak Rabu (10/6/2026) kemarin. Fenomena ini bukan karena kelangkaan, melainkan efek domino dari kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi.

Manajer SPBU Gunung Guntur, Randy Faisal Hud, mengatakan tren peralihan konsumen sudah terlihat jelas. “Sejak kemarin memang sudah kelihatan ada tren peralihan dari Pertamax ke Pertalite,” kata Randy, Kamis (11/6/2026).

Penjualan Pertalite Melonjak, Pertamax Anjlok

Data penjualan di SPBU tersebut menunjukkan perubahan drastis. Jika biasanya dalam sehari Pertalite terjual 23-24 kiloliter, kini melonjak menjadi 28-29 kiloliter. Sebaliknya, penjualan Pertamax turun dari 9 kiloliter menjadi hanya 7 kiloliter per hari.

“Karena selisih harganya kan cukup tinggi, jadi masyarakat rela antre untuk mendapatkan Pertalite,” ujar Randy.

Saat ini harga Pertamax di Kalimantan Timur mencapai Rp 16.650 per liter. Sementara harga Pertalite yang merupakan BBM subsidi masih jauh lebih murah, membuat banyak pemilik kendaraan pribadi memutar haluan.

Dexlite Ikut Terdampak, Penjualan Turun Setengahnya

Produk nonsubsidi lainnya, Dexlite, juga mengalami nasib serupa. Penjualan solar nonsubsidi ini turun drastis dari biasanya 1 kiloliter menjadi hanya 500 liter per hari. Harga Dexlite di Kaltim kini menyentuh Rp 23.500 per liter.

“Ya mereka (konsumen Dexlite) kini belinya juga tidak seperti biasa. Dikurangi,” kata Randy.

Warga Mengaku Keberatan: “Saya Tidak Sanggup”

Supriyono, warga Kelurahan Karang Rejo, mengaku terpaksa ikut antre panjang untuk mendapatkan Pertalite. Sebelum kenaikan, ia biasa mengisi Pertamax karena tidak ingin antre. “Tapi setelah harga naik, saya tidak sanggup membeli Pertamax,” kata dia.

Ia berharap harga BBM bisa segera kembali turun. “Semoga bisa segera kembali turun harganya. Sebab ini sangat memberatkan kami masyarakat bawah,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Nahar, sopir taksi daring. Ia mengaku khawatir pendapatan hariannya tidak cukup jika memaksakan diri tetap menggunakan Pertamax. “Biasanya saya ngisi Pertamax Rp200 ribu. Sekarang saya alihkan ke Pertalite saja, takut nanti enggak nutup sama pendapatan,” ujar dia.

Reporter: Dimas Prasetyo
Sumber: eksposkaltim.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top