Dalam dunia riset fusi nuklir, suhu plasma 10 juta derajat Celsius adalah gerbang yang tak bisa diabaikan. Angka itu setara dengan 1 kiloelectron volt (keV), ambang batas yang membuat fisikawan benar-benar serius. "Suhu itu cukup panas sehingga dunia akan memperhatikannya," ujar Bob Mumgaard, CEO Commonwealth Fusion Systems, dalam pernyataan yang dikutip TechCrunch.
Avalanche Energy, startup yang berbasis di Seattle, secara eksklusif mengonfirmasi ke TechCrunch bahwa prototipe terbaru mereka — yang dinamai Jyn — melampaui ambang tersebut. Plasma di dalam reaktor berdiameter hanya lima inci itu dipanaskan hingga suhu sekitar 11 juta derajat Celsius. Hasil ini, menurut Avalanche, telah divalidasi oleh fisikawan plasma dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Kebanyakan startup fusi nuklir dunia — seperti Commonwealth Fusion Systems atau TAE Technologies — membangun reaktor raksasa seukuran gedung untuk menghasilkan puluhan hingga ratusan megawatt listrik. Strategi mereka mahal dan lambat. Avalanche justru memilih jalur sebaliknya: kecil, murah, dan cepat diiterasi.
Sejak musim gugur tahun lalu, Avalanche telah memperbarui desain Jyn sebanyak 25 kali. Inti fusi reaktor ini hanya sebesar bola softball, memungkinkan tim melakukan eksperimen dengan biaya rendah dan siklus pengembangan yang jauh lebih singkat. "Kami bisa gagal cepat dan belajar lebih cepat," kira-kira begitu semangat yang tersirat dari pendekatan mereka.
Fisikawan plasma tidak mengukur suhu dengan termometer biasa. Mereka menggunakan satuan kiloelectron volt (keV) untuk mengukur energi partikel di dalam plasma. Semakin tinggi energi, semakin besar peluang partikel saling bertabrakan dan menyatu — itulah reaksi fusi yang melepaskan energi raksasa.
Jika plasma tidak cukup panas, partikel-partikelnya bergerak terlalu lambat untuk saling mendekati dan bergabung. Tapi jika suhu, kepadatan, dan durasi penahanan plasma sudah tepat, reaksi fusi akan berlangsung berantai dan menghasilkan lebih banyak energi daripada energi yang dibutuhkan untuk memulainya. Avalanche kini berada di jalur menuju titik impas energi itu.
Jika Avalanche berhasil mengkomersialkan reaktor kecilnya, dampaknya bisa sangat disruptif. Bayangkan generator diesel di daerah terpencil atau turbin gas alam di pembangkit listrik skala kecil — semua bisa tergantikan oleh reaktor fusi seukuran koper yang tidak menghasilkan emisi karbon dan hampir tanpa limbah radioaktif.
Meski demikian, pencapaian ini belum diuji oleh jurnal ilmiah bereputasi. Avalanche belum mempublikasikan hasil risetnya di jurnal peer-review, hanya mengandalkan validasi internal dari MIT. Ini langkah yang lazim di dunia startup — tapi juga menyisakan tanda tanya di kalangan akademisi yang menuntut transparansi data mentah.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Negeri kepulauan dengan ribuan desa terpencil yang belum terjangkau listrik bisa menjadi pasar potensial bagi reaktor fusi berukuran kecil. Tapi jangan berharap dalam waktu dekat: reaktor fusi komersial — bahkan yang paling optimis sekalipun — masih dalam hitungan dekade, bukan tahun.