SANGATTA — Sejumlah desa di Kutai Timur (Kutim) kini menggelar pesta adat panen yang dikemas sebagai atraksi wisata budaya. Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menyebut tradisi ini merupakan ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah dan menjadi sarana memperkuat persatuan dalam keberagaman.
"Berbagai kegiatan dan pesta panen tidak hanya menjadi sarana menjaga tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat persatuan dalam keberagaman, termasuk untuk menarik wisatawan," kata Mahyunadi di Sangatta, Senin.
Beberapa tradisi yang masuk dalam program wisata budaya ini antara lain Lom Plai oleh Suku Dayak Wehea di Kecamatan Muara Wahau. Tradisi ini digelar di enam desa, yakni Nehas Liah Bing, Jak Luay, Diak Lay, Long Wehea, Bea Nehas, dan Deabeq.
Selain itu, tradisi Mecaq Undat oleh Suku Dayak Kenyah di Kecamatan Bengalon juga masuk dalam daftar. Tradisi ini meliputi Desa Tepian Budaya, Tepian Sumbang, Long Beleh, Rantau Panjang di Kecamatan Telen, Desa Singa Gembara di Kecamatan Sangatta Utara, dan Desa Tanjung Labu di Kecamatan Rantau Pulung.
Salah satu yang mendapat perhatian adalah Festival Budaya Bengen Lepek Majau yang digelar di Dusun Rindang Benua, Desa Pinang Raya, Kecamatan Sangatta Selatan, pada Jumat (5/6). Acara ini menampilkan ritual adat, tarian tradisional, musik khas Dayak, hingga busana adat.
Mahyunadi yang hadir langsung dalam festival tersebut mengapresiasi keterbukaan masyarakat Dayak Kenyah setempat. "Masyarakat Dayak Kenyah di sini sangat terbuka dan inklusif. Berbagai suku dapat berbaur dan bersama-sama melestarikan budaya Dayak. Ini menjadi simbol bahwa keberagaman dapat disatukan dalam sebuah kebersamaan indah," ujarnya.
Wakil Bupati menilai Festival Bengen Lepek Majau memiliki peluang besar masuk kalender kegiatan tahunan daerah. Lokasi Dusun Rindang Benua yang dekat dengan pusat kota Sangatta dinilai strategis untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya.
"Kami akan terus dorong agar Festival Bengen Lepek Majau dapat masuk dalam kalender giat tahunan daerah, sebagai salah satu agenda budaya unggulan di Kabupaten Kutim," kata Mahyunadi.
Ia menambahkan, jika fasilitas pendukung terus ditingkatkan, potensi dusun ini untuk menarik lebih banyak pengunjung sangat besar. Pemerintah daerah berkomitmen mendorong pelestarian adat sekaligus menggerakkan sektor pariwisata lokal.