KALIMANTAN TIMUR — Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, memaparkan data ilmiah yang mengejutkan dalam sambutannya. Satu hektare lahan mangrove, kata dia, mampu menyerap dan menyimpan hingga 1.000 ton karbon. Angka ini menjadikan ekosistem pesisir sebagai garda terdepan dalam mitigasi perubahan iklim.
“Indonesia harus mulai menyiapkan energi terbarukan dan membangun budaya hidup ramah lingkungan sejak dini,” ujar Abdul Mu’ti di sela-sela aksi penanaman pohon tersebut.
Gubernur Rudy Mas’ud menekankan bahwa sekolah wajib menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter siswa yang sensitif terhadap isu bumi. Ia menyebut kecerdasan akademik harus berjalan beriringan dengan kepedulian lingkungan.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi ruang membangun kecerdasan ekologis dan tanggung jawab sosial,” jelas Rudy Mas’ud.
Peluncuran Gerakan Sekolah ASRI ini bertepatan dengan perayaan Milad ke-109 Aisyiyah. Momentum itu dimanfaatkan untuk mengintegrasikan kesadaran lingkungan ke dalam sistem pendidikan secara lebih sistemik.
Gerakan ini tidak berhenti pada seremoni penanaman pohon. Kemendikdasmen dan Pemprov Kaltim mendorong siswa untuk menerapkan gaya hidup hijau secara konkret di lingkungan sekolah. Beberapa aksi yang sudah dirancang antara lain:
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, yang turut hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi. Ia menilai kebiasaan positif yang dipupuk di lingkungan sekolah akan menjadi fondasi utama pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.
“Kebiasaan menanam, merawat lingkungan, menjaga kebersihan, dan berbuat baik merupakan investasi jangka panjang untuk menentukan karakter bangsa,” kata Hetifah.
Dengan adanya Gerakan Sekolah ASRI, Balikpapan dan Kalimantan Timur secara keseluruhan diharapkan menjadi percontohan nasional dalam pendidikan berbasis ekologi. Langkah ini menjadi sinyal bahwa krisis iklim tidak hanya dijawab oleh kebijakan pusat, tetapi juga dimulai dari bangku sekolah.