KALIMANTAN TIMUR — Fenomena ini diungkapkan dalam surat resmi sejumlah organisasi industri kepada Departemen Keuangan dan Perdagangan Amerika Serikat. Mereka menyatakan pasar chip global tengah mengalami ketidakseimbangan serius yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Permintaan chip untuk keperluan komputasi AI di pusat-pusat data dunia tumbuh eksponensial dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini langsung menggerus pasokan yang seharusnya dialokasikan untuk sektor manufaktur tradisional, termasuk otomotif.
Akibatnya, harga chip di pasar spot melonjak tajam. Produsen mobil yang bergantung pada pasokan chip untuk sistem kontrol mesin, infotainment, hingga fitur keselamatan aktif pun mulai merasakan dampaknya.
Organisasi yang melayangkan surat ke pemerintah AS memperingatkan bahwa tekanan ini akan berujung pada kenaikan harga jual berbagai produk konsumen dan industri. Mobil, sebagai salah satu produk dengan kandungan chip terbanyak, menjadi yang paling rentan.
Kenaikan harga bisa terjadi dalam bentuk penyesuaian harga jual kendaraan baru dari pabrikan. Skenario lain, pabrikan justru memangkas volume produksi karena kesulitan mendapatkan komponen, yang pada akhirnya juga menekan harga di pasar sekunder.
Ini bukan pertama kalinya industri otomotif kolaps akibat kelangkaan chip. Pada periode 2020 hingga 2023, pandemi memicu krisis serupa yang memaksa pabrikan seperti Toyota, Volkswagen, hingga Honda memangkas produksi hingga ratusan ribu unit. Kala itu, penyebabnya adalah lonjakan permintaan elektronik konsumen.
Kali ini, pemicunya berbeda. Permintaan AI bersifat struktural dan diprediksi terus tumbuh dalam jangka panjang. Artinya, tekanan terhadap pasokan chip untuk otomotif tidak akan selesai dalam hitungan bulan.
Bagi konsumen di Indonesia, dampak potensial bisa dirasakan dalam beberapa bulan ke depan. Pabrikan yang melakukan impor Completely Knocked Down (CKD) atau Completely Built Up (CBU) sangat bergantung pada rantai pasok global.
Jika harga chip global terus merangkak naik, bukan tidak mungkin Agen Pemegang Merek (APM) akan me