SAMARINDA — Selama hampir dua semester, ruang kelas baru di SDN 013 Sambutan, Samarinda, hanya berdinding kosong tanpa perabot. Tidak ada meja, tidak ada kursi. Sejumlah siswa pun terpaksa duduk lesehan di lantai setiap kali mengikuti pelajaran.
Keterbatasan ini sudah berlangsung sekitar enam bulan, tepatnya sejak awal semester dua ketika ruang kelas tersebut mulai difungsikan. Pihak sekolah belum kunjung mendapatkan pasokan mebel dari Pemerintah Kota Samarinda.
Untuk menyiasati ketidaknyamanan itu, sebagian orang tua memutuskan menyuruh anaknya membawa meja lipat sendiri dari rumah. Meja portabel itu digunakan siswa selama jam belajar berlangsung.
Guru Kelas III SDN 013 Sambutan, Dian Kuswoyo, mengatakan langkah tersebut lahir dari kesepakatan antara pihak sekolah dan orang tua murid. Tujuannya agar kegiatan belajar pada sesi pagi tetap berjalan tanpa harus menerapkan sistem dua shift.
“Meja yang digunakan saat ini memang dibawa masing-masing siswa dari rumah sebagai bentuk dukungan orang tua terhadap kegiatan belajar anak-anak,” kata Dian.
Dian mengakui kondisi lesehan berpengaruh langsung terhadap kenyamanan siswa. Anak-anak lebih cepat kelelahan karena harus duduk di lantai dalam waktu lama.
“Pembelajaran tentu tidak senyaman jika siswa menggunakan meja dan kursi. Saat duduk di lantai, mereka lebih cepat merasa lelah sehingga konsentrasi belajar juga menjadi lebih terbatas,” ujarnya.
Aktivitas menulis dan mengerjakan tugas menjadi lebih sulit. Posisi tubuh yang tidak ergonomis membuat anak cepat mengeluh pegal, sehingga fokus terhadap materi pelajaran berkurang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Ibnu Araby, menilai langkah membawa meja lipat dari rumah adalah kebijakan internal sekolah untuk menyiasati keterbatasan fasilitas. Pihaknya belum memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai ketersediaan meja dan kursi di SDN 013 Sambutan.
Sementara itu, Dian menyebut tidak ada keluhan berarti dari para orang tua. Mereka justru mendukung inisiatif tersebut selama anak-anak tetap bisa belajar secara normal tanpa harus kembali ke sistem dua shift yang sebelumnya pernah diterapkan.
“Orang tua memahami kondisi yang ada dan mendukung upaya sekolah. Selama kebutuhan belajar anak-anak tetap terpenuhi, mereka tidak mempermasalahkan penggunaan meja lipat dari rumah,” tambahnya.