BERAU — Persoalan sampah liar di Kabupaten Berau kembali mencuat. DLHK Berau mencatat lonjakan volume sampah yang dibuang sembarangan di beberapa titik, seperti di Kelurahan Gunung Panjang, Tanjung Redeb, dan kawasan pesisir. Fenomena ini muncul setelah libur panjang dan musim panen di sejumlah kampung.
DLHK Berau mengidentifikasi setidaknya lima titik yang menjadi langganan pembuangan sampah liar. Lokasi-lokasi itu umumnya berada di lahan kosong milik perorangan atau bantaran sungai yang minim penerangan. "Warga membuang sampah pada malam hari karena menganggap sepi dan tidak ada petugas," ujar Kepala DLHK Berau, Muhammad Syahrani, dalam keterangan tertulis.
Pola pembuangan ini, menurut Syahrani, sudah berlangsung bertahun-tahun dan sulit dihentikan hanya dengan imbauan. DLHK pun mengubah pendekatan dari sekadar penindakan menjadi ajakan gotong royong.
DLHK Berau mengajak warga di setiap RT dan kelurahan untuk menggelar kerja bakti serentak pada akhir pekan ini. Petugas kebersihan akan dikerahkan untuk mengangkut sampah yang sudah menumpuk di titik-titik kritis. "Kami minta warga tidak hanya menunggu petugas, tapi ikut memungut dan mengumpulkan sampah di titik yang sudah disepakati," kata Syahrani.
Selain kerja bakti, DLHK juga menyiapkan tambahan 15 kontainer berukuran 6 meter kubik untuk ditempatkan di kawasan permukiman padat. Kontainer-kontainer itu akan dirotasi setiap dua hari sekali agar tidak penuh dan menimbulkan bau.
Syahrani menjelaskan bahwa lonjakan sampah liar terjadi karena kebiasaan warga yang masih membuang sampah sembarangan, terutama saat tempat pembuangan sementara (TPS) penuh. "Kami sudah punya jadwal pengangkutan, tapi kadang warga tidak sabar menunggu," ujarnya.
DLHK juga mencatat bahwa volume sampah rumah tangga di Berau meningkat hingga 20 persen selama musim panen dan libur panjang. Hal ini mempercepat penuhnya kontainer di TPS dan memicu warga membuang sampah di tempat lain.
DLHK Berau tidak hanya mengandalkan kerja bakti. Ke depan, pihaknya akan memasang kamera pengawas (CCTV) di titik-titik rawan dan memberikan sanksi denda bagi warga yang kedapatan membuang sampah sembarangan. "Kami juga akan menggencarkan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan kelompok PKK agar kebiasaan ini berubah dari akarnya," kata Syahrani.
DLHK berharap kerja bakti dan penambahan kontainer bisa menjadi solusi jangka pendek. Namun, perubahan perilaku warga tetap menjadi kunci utama untuk menyelesaikan persoalan sampah liar di Berau secara permanen.