Harga Sawit Anjlok di Kabupaten Paser, Petani Mengeluh Pendapatan Tak Cukupi Biaya Panen

Penulis: Endra Sanjaya  •  Senin, 01 Juni 2026 | 15:10:11 WIB
Petani sawit di Kabupaten Paser mengeluhkan pendapatan menurun akibat harga TBS yang anjlok.

PASER — Harga TBS di tingkat petani Kabupaten Paser turun drastis dalam sebulan terakhir. Dari sebelumnya di kisaran Rp 2.500 hingga Rp 2.800 per kilogram, kini harga hanya bertahan di level Rp 1.500 sampai Rp 1.700 per kilogram. Penurunan ini memicu keluhan dari ribuan petani sawit yang tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Tanah Grogot, Batu Sopang, dan Paser Belengkong.

Biaya Panen Lebih Besar dari Pendapatan

Sejumlah petani mengaku pendapatan dari satu kali panen tak lagi sebanding dengan ongkos tenaga kerja dan transportasi. “Kami harus bayar buruh panen Rp 400 per kilogram, ditambah biaya angkut ke pabrik. Kalau harga cuma Rp 1.600, bersihnya sangat kecil,” ujar seorang petani di Kecamatan Tanah Grogot, Senin lalu.

Kondisi ini memaksa sebagian petani memilih menunda panen. Mereka berharap harga kembali naik dalam waktu dekat. Namun, penundaan panen berisiko menurunkan kualitas buah dan meningkatkan serangan hama di kebun.

Penyebab Anjloknya Harga Sawit

Penurunan harga TBS di Paser dipicu oleh melemahnya harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar internasional. Data dari Dinas Perkebunan setempat menunjukkan harga CPO global turun sekitar 15 persen dalam dua bulan terakhir. Selain itu, beberapa pabrik pengolahan di Kalimantan Timur mengurangi kapasitas produksi karena menunggu kepastian harga jual.

Petani juga menyoroti praktik tengkulak yang kerap memotong harga saat pembelian di tingkat kebun. “Kalau jual ke tengkulak, harganya bisa lebih rendah lagi. Tapi pabrik kadang menerima TBS dengan syarat kadar air tertentu yang sulit kami penuhi,” kata seorang petani lain di Kecamatan Batu Sopang.

Apa Langkah Pemkab Paser Selanjutnya?

Pemerintah Kabupaten Paser melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan disebut tengah mengkaji opsi intervensi harga. Salah satu skema yang dibahas adalah pembelian TBS oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan harga patokan sementara. Namun, hingga saat ini belum ada keputusan resmi yang diumumkan ke publik.

Para petani berharap Pemkab Paser segera mengambil langkah konkret, seperti memfasilitasi kemitraan langsung dengan pabrik pengolahan atau memberikan subsidi ongkos angkut. “Kami tidak minta harga tinggi, yang penting bisa balik modal. Kalau begini terus, banyak petani kecil yang akan gulung tikar,” ujar seorang perwakilan kelompok tani di Kecamatan Paser Belengkong.

Dampak ke Ekonomi Lokal

Anjloknya harga sawit turut mempengaruhi perputaran uang di desa-desa sentra produksi. Di Kecamatan Tanah Grogot, misalnya, aktivitas di pasar tradisional menurun karena petani mengurangi belanja harian. Beberapa warung sembako mengaku omzet mereka turun hingga 30 persen dalam dua pekan terakhir.

Kelompok tani setempat berencana mengirimkan surat permohonan audiensi ke DPRD Kabupaten Paser. Mereka ingin mendorong pembahasan kebijakan stabilisasi harga TBS dalam rapat kerja dengan dinas terkait. “Kami butuh solusi jangka pendek, bukan hanya janji,” pungkas petani tersebut.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: kaltimpost.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top