Tesla Ganti Nama FSD di China Jadi ‘Tesla Assisted Driving’, Akui Sistemnya Tak Sepenuhnya Otonom

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Minggu, 24 Mei 2026 | 13:24:38 WIB
Tesla mengubah nama sistem FSD menjadi ‘Tesla Assisted Driving’ di China.

KALIMANTAN TIMUR — Selama lebih dari satu dekade, Tesla menjual janji mobil yang bisa menyetir sendiri. Nama “Full Self-Driving” (FSD) dipasang dengan harga hingga US$15.000, seolah pengguna membeli sopir robot pribadi. Kenyataannya, sistem itu tetap berada di level 2 dalam klasifikasi standar industri — setara dengan fitur bantuan pengemudi canggih pada mobil lain. Manusia tetap harus bertanggung jawuh penuh di belakang kemudi.

Regulator China Lebih Tegas dari California

Perubahan nama ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Tesla menyebut sistemnya “FSD Intelligent Assisted Driving” di China, lalu menghilangkan kata FSD. Kini, kata “Intelligent” diganti dengan “Tesla” — menjadi “Tesla Assisted Driving”.

Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi tekanan dari regulator China yang dinilai lebih tidak main-main dibandingkan Amerika Serikat. Sebagai contoh, pemerintah China baru-baru ini mengeluarkan aturan ketat yang membalikkan tren penggunaan gagang pintu tersembunyi (flush door handle) yang banyak ditiru dari Tesla. China menjadi negara pertama yang berani menghentikan tren itu secara regulatif.

Di California, Tesla hanya perlu menambahkan kata “(Supervised)” di belakang nama FSD dan beralih ke model berlangganan untuk memuaskan regulator. Di China, pendekatan yang sama tidak cukup.

Dari Janji Otonom ke Realita Level 2

Kesenjangan antara nama dan kemampuan FSD telah menjadi sasaran kritik bertahun-tahun. CEO Tesla, Elon Musk, terus menjanjikan otonomi penuh “pada akhir tahun depan” — janji yang sudah diulang sejak sekitar satu dekade lalu. Pengamat mulai skeptis karena realitas di jalan tidak pernah sejalan dengan ambisi tersebut.

Sistem Tesla memang diakui sebagai salah satu Advanced Driver Assist Systems (ADAS) paling canggih di pasaran. Namun, pada akhirnya, sistem ini tetap membutuhkan pengawasan penuh pengemudi. Menyebutnya “full self-driving” dianggap membangun merek di atas kebohongan, terutama ketika keselamatan publik menjadi taruhannya.

Hong Kong Masih Pakai Nama Lama

Menariknya, perubahan nama ini hanya berlaku di China daratan. Di Hong Kong — yang merupakan bagian dari China namun memiliki otonomi hukum sendiri, termasuk aturan lalu lintas dengan setir kanan — Tesla masih menjual sistem tersebut dengan nama “Full Self-Driving” di situs berbahasa Inggris. Situs berbahasa Mandarin di Hong Kong menerjemahkannya sebagai “fungsi mengemudi otomatis penuh”.

Belum jelas apakah perubahan di China daratan akan diikuti oleh pasar lain. Yang pasti, langkah ini menunjukkan bahwa tekanan regulator mampu memaksa Tesla untuk lebih jujur tentang apa yang sebenarnya dijual — sebuah sistem bantuan, bukan sopir robot.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: electrek.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top