SAMARINDA — Perombakan total pada program kerja Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) menjadi salah satu fokus utama PB ICF setelah bertransformasi dari Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI). Sekretaris Jenderal PB ICF, Jadi Radjaguguk, menegaskan bahwa sistem pembinaan atlet kini dirancang untuk saling terintegrasi secara berjenjang, mulai dari kompetisi tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga puncaknya di Kejuaraan Nasional (Kejurnas).
Untuk mewujudkan integrasi tersebut, PB ICF kini memperketat pengawasan terhadap seluruh agenda balap sepeda di daerah. Radjaguguk meminta agar setiap event resmi, termasuk Kejuaraan Daerah (Kejurda) hingga Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), wajib dilaporkan secara resmi ke pengurus pusat.
"Kita ingin semua atlet dari tingkat kabupaten memiliki jalur yang jelas dan berkesempatan tampil menjadi atlet nasional," ujar Radjaguguk.
Pelaporan ini sangat krusial karena setiap kompetisi resmi yang bergulir di daerah akan dihitung ke dalam sistem poin nasional para atlet. Tanpa laporan tersebut, prestasi atlet di daerah tidak akan terakumulasi secara nasional.
Radjaguguk mengibaratkan sistem baru ini seperti sebuah pohon. Akar yang kuat di tingkat kabupaten dan kota menjadi fondasi utama agar pohon prestasi nasional bisa tumbuh. "Makanya kita minta semua terintegrasi. Ibarat sebuah pohon, akarnya adalah para pengurus ICF di tingkat kabupaten dan kota. Tanpa akar yang kuat di daerah, pohon prestasi nasional tidak akan bisa tumbuh," tegasnya.
Selain integrasi kompetisi, ICF juga meluncurkan program latihan bertajuk transfer of knowledge (transfer pengetahuan). Melalui program ini, para penggiat sepeda dan atlet di daerah diberikan kesempatan untuk menggelar latihan bersama dengan Tim Nasional (Timnas) balap sepeda Indonesia.
Langkah ini diharapkan mampu mengikis kesenjangan kualitas sirkuit, teknik, dan metode latihan antara pusat dan daerah. Program ini juga bertujuan memotivasi para atlet lokal untuk menembus skuad merah putih di masa depan. (rd)