SAMARINDA — KalaFest 2026 tidak sekadar menjadi ajang pameran produk halal. Pelaksana harian Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalimantan Timur, Bayuadi Hardiyanto, menyebut festival ini menjadi jembatan antara pelaku UMKM dengan lembaga keuangan syariah.
"Festival halal ini menghadirkan berbagai inisiatif strategis untuk mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis nilai Islam," ujar Bayuadi saat penutupan di pelataran Masjid Baitul Muttaqien, Islamic Center Samarinda, Senin.
Salah satu program unggulan yang menjadi motor pembiayaan adalah Business Matching bertajuk BIMA ETAM. Program ini merupakan akronim dari Edukasi serta Literasi Keuangan UMKM, yang digarap bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim-Kaltara.
Melalui BIMA ETAM, sebanyak 20 pelaku UMKM syariah berhasil mendapatkan kucuran dana dari tujuh lembaga keuangan syariah yang berpartisipasi. Total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp3,29 miliar. Tidak hanya modal, para pelaku usaha juga dibekali pelatihan pencatatan keuangan digital untuk memperkuat tata kelola bisnis.
Antusiasme masyarakat terhadap festival ini terbilang tinggi. Selama tiga hari penyelenggaraan, total pengunjung fisik mencapai lebih dari 24.815 orang. Jangkauan melalui platform digital bahkan menembus angka 702.483 orang.
Dari sisi transaksi, nilai penjualan langsung yang tercatat dari puluhan UMKM lokal mencapai Rp670.034.600. Angka ini menunjukkan daya beli masyarakat terhadap produk-produk halal dan UMKM lokal masih sangat kuat.
Berbeda dengan edisi sebelumnya, KalaFest 2026 tidak hanya terpusat di Samarinda. Rangkaian acara juga merambah ke Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kutai Timur, Bontang, Berau, hingga Mahakam Ulu.
Perluasan ini dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar serentak di daerah-daerah tersebut. Inisiatif ini menjadi bagian dari Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia.
Bayuadi menjelaskan, KalaFest 2026 fokus pada tiga pilar utama. Pertama, pembiayaan dan keuangan sosial syariah. Kedua, pengembangan gaya hidup halal (halal lifestyle). Ketiga, digitalisasi dan literasi ekonomi syariah.
Melalui keberhasilan ini, Kalimantan Timur optimistis dapat terus memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan ekonomi syariah di kawasan timur Indonesia. Kolaborasi antara BI, OJK, perbankan syariah, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama akselerasi ini.