Pencarian

Bos Zam, Sang Suhu Pers Kaltim, Bicara Soal Masa Depan IKN dan Marwah Media di Tengah Disrupsi Digital

Jumat, 15 Mei 2026 • 12:59:01 WIB
Bos Zam, Sang Suhu Pers Kaltim, Bicara Soal Masa Depan IKN dan Marwah Media di Tengah Disrupsi Digital
Bos Zam berbagi pandangan soal masa depan Ibu Kota Nusantara dan tantangan media di era digital.

BALIKPAPAN — Bagi generasi lama wartawan Kalimantan Timur, nama Zainal Muttaqien bukan sekadar mantan petinggi media. Ia adalah “suhu” yang ikut membentuk kultur jurnalistik dan pola manajemen media di daerah. Pertemuan yang awalnya hanya janji telepon berujung obrolan panjang di sebuah rumah makan kawasan Balikpapan Baru.

“Saya jalan saja kalau pulang dari sini. Motor saya titip di area masjid,” kata Bos Zam saat ditanya soal tempat tinggalnya yang tak jauh dari lokasi pertemuan. Gaya hidup sederhana itu, menurut rekan-rekannya, tak pernah berubah sejak era kejayaan Kaltim Post dulu.

Bos Zam datang dengan kemeja batik hijau kebiruan dan peci hitam khasnya. Di meja hanya ada kopi, gorengan, dan diskusi panjang soal media. Namun dari suasana itulah, Direktur Radar Balikpapan Andrie Aprianto dan jajaran Media Kaltim Network yang hadir mengaku mendapat banyak pelajaran.

Kiprah Bos Zam: Dari Kaltim Post hingga Jawa Pos Group

Karier jurnalistik Bos Zam dimulai saat ia memimpin PT Duta Manuntung, perusahaan penerbit harian Kaltim Post. Di bawah kepemimpinannya, koran itu tumbuh menjadi salah satu yang paling berpengaruh di Kaltim pada era 1990-an hingga 2010-an.

Ia kemudian dipercaya menjadi Direktur Utama PT Jawa Pos Jaringan Media Nusantara (JJMN), bagian dari Jawa Pos Group. Masa itu dikenal sebagai era ekspansi besar-besaran media cetak di daerah. Kaltim Post memperluas jaringan biro, mendominasi iklan regional, hingga menjadi rujukan informasi politik dan ekonomi.

“Bos Zam selalu percaya perusahaan media itu besar karena SDM-nya,” ujar salah satu peserta pertemuan menirukan pesan yang kerap disampaikan. Upgrading wartawan, redaktur, hingga jajaran direksi terus didorong. Banyak yang dibawa studi banding ke luar negeri atau didorong menyelesaikan pendidikan sarjana.

Budaya Belajar yang Melahirkan Banyak Wartawan dan Pejabat

Budaya belajar yang ditanamkan Bos Zam di era itu tak hanya melahirkan wartawan handal. Banyak dari mereka kemudian mendirikan media sendiri di berbagai daerah. Bahkan ada yang kariernya meroket ke dunia politik dan pemerintahan.

“Ada yang menjadi wali kota, ketua DPRD, anggota legislatif, hingga pejabat penting di daerah,” kisahnya. Hal itu menunjukkan bagaimana investasi pada sumber daya manusia berdampak jangka panjang, tidak hanya bagi perusahaan tapi juga bagi ekosistem pers dan pemerintahan di Kaltim.

Pandangan Bos Zam soal IKN: Langkah Besar untuk Pemerataan

Perbincangan malam itu juga menyentuh soal Ibu Kota Nusantara. Bos Zam menilai pemindahan ibu kota yang diwujudkan pada era Presiden Joko Widodo merupakan langkah besar untuk pemerataan pembangunan Indonesia.

“Keberadaan IKN sangat bagus untuk masa depan Indonesia dan memang harus didukung bersama,” ujarnya. Menurutnya, posisi IKN di Kalimantan akan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa.

Inspirasi untuk Media Kaltim Network

Pertemuan itu juga menjadi momen refleksi bagi pengelola Media Kaltim Network. Sebagian konsep pengembangan jaringan media itu disebut terinspirasi dari cara Bos Zam membangun media pada masanya.

“Cara memandang perusahaan pers bukan sekadar tempat memproduksi berita, tetapi bagaimana media dibangun menjadi ekosistem yang hidup, memiliki jaringan, pengaruh, sekaligus tetap kuat secara bisnis,” ujar salah satu pendiri Media Kaltim Network.

Sebelum mendirikan media sendiri, ia sempat menghubungi Bos Zam untuk meminta dukungan. Responsnya sangat positif. “Beliau memberi semangat dan menyampaikan semoga media yang saya bangun bisa berkembang dan sukses,” kenangnya. Dukungan itu, kata dia, cukup berarti saat memulai dari nol.

Bagikan
Sumber: radarbontang.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks