SAMARINDA — Kepala Pelaksana BPBD Samarinda Suwarso menyatakan pemantauan kondisi fisik relawan dilakukan karena frekuensi kejadian karhutla di Kecamatan Sambutan sangat padat. Petugas di lapangan rata-rata bekerja lebih dari 12 jam setiap hari untuk memadamkan api.
Dari 90 peserta, sebanyak 40 personel menerima infus vitamin booster, sementara lebih dari 50 orang mengikuti pemeriksaan kesehatan rutin. Kegiatan ini terlaksana berkat kolaborasi BPBD Samarinda dengan Raheela Project, mitra dari LAZ DPU Kaltim.
BMKG memprediksi musim kemarau masih berlangsung 12 hari ke depan. Selain memadamkan api, tenaga relawan juga dibutuhkan untuk mendistribusikan air bersih kepada warga terdampak.
"Kami melakukan pemantauan terhadap kondisi fisik para relawan karena frekuensi kejadian karhutla di Kecamatan Sambutan begitu padat," ujar Suwarso.
Intensitas karhutla yang tinggi menuntut kondisi fisik prima dari setiap personel. Pemeriksaan kesehatan dan vitamin booster diarahkan untuk mencegah relawan tumbang di tengah operasi pemadaman.
Suwarso berharap dukungan serupa terus mengalir dari berbagai pihak bagi para pejuang di garis depan. Menurutnya, ketahanan fisik relawan merupakan modal utama dalam menangani bencana di lapangan.
BPBD Samarinda akan terus memantau kondisi personel selama musim kemarau berlangsung. Distribusi air bersih bagi warga terdampak tetap berjalan berdampingan dengan operasi pemadaman di Kecamatan Sambutan.