KALIMANTAN TIMUR — Paviliun Kawasan Berikat Indonesia dalam Trade Expo Indonesia 2026 mencatat potensi investasi lebih dari Rp5 triliun hanya dalam dua hari pameran, 15–16 Oktober 2026. Potensi itu datang dari 16 perusahaan, terdiri atas 13 perusahaan kawasan berikat dan tiga perusahaan pusat logistik berikat. Kementerian Perdagangan merilis hasil sementara tersebut pada Sabtu, 17 Oktober 2026 pukul 21.39 WIB.
Selain potensi investasi, paviliun mencatat potensi transaksi sekitar Rp2 miliar atau 110 ribu dolar AS dari pertemuan bisnis selama pameran berlangsung. Angka itu berasal dari penghitungan sementara Kementerian Perdagangan, bukan realisasi penjualan yang sudah dikonfirmasi.
Paviliun seluas 72 meter persegi menempati Hall 7, stan 7-5, dan terdiri atas lima stan. Penyelenggara melibatkan Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat (APKB) yang memiliki 735 perusahaan anggota, sehingga calon mitra bisa langsung menggali informasi soal kapasitas produksi, fasilitas kepabeanan, dan peluang kerja sama.
Perusahaan peserta mewakili sektor baja, farmasi, alas kaki, pakan ternak, rekondisi kendaraan, dan tekstil. Keragaman itu memperlihatkan fasilitas kawasan berikat tidak hanya dipakai satu kelompok industri, melainkan manufaktur dengan rantai pasok dan tujuan ekspor yang berbeda-beda.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam membangun ekosistem ekspor.
"Paviliun ini menjadi wujud kolaborasi dalam memperkuat ekosistem ekspor sekaligus menarik investasi," ujar Puntodewi dalam rilis resmi Kementerian Perdagangan.
Kementerian Perdagangan mencatat nilai ekspor manufaktur Indonesia pada Januari–Agustus 2026 mencapai 94,01 miliar dolar AS, tumbuh 7,91 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, impor manufaktur tercatat 117,89 miliar dolar AS atau naik 16,22 persen.
Kesenjangan itu membuat dorongan investasi di kawasan berikat kian relevan. Tujuan utama ekspor manufaktur pada periode tersebut adalah Tiongkok dengan pangsa 21,17 persen, disusul Amerika Serikat 16,52 persen, Jepang 5,70 persen, India 5,29 persen, dan Vietnam 4,34 persen.
Ketua Umum APKB Iwa Koswara berharap potensi investasi di kawasan berikat memberi dampak lebih luas, terutama bagi penyerapan tenaga kerja.
"Investasi di kawasan berikat akan mendorong penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan ekspor," kata Iwa.
Kawasan berikat memberi fasilitas bagi perusahaan berorientasi ekspor, tetapi realisasi investasi tetap butuh tindak lanjut. Calon investor perlu memeriksa kelayakan lokasi, kepastian pasokan, ketersediaan tenaga kerja, kebutuhan teknologi, standar produk, dan akses logistik.
Perusahaan peserta pun dituntut menyiapkan data kapasitas dan rencana kerja yang bisa diverifikasi. Tanpa itu, minat yang tercatat di paviliun sulit naik ke tahap kontrak.
Hal serupa berlaku untuk potensi transaksi Rp2 miliar. Nilai tersebut baru bisa dikonfirmasi setelah negosiasi, pemeriksaan spesifikasi, penyusunan kontrak, dan pemenuhan dokumen selesai. Bagi pelaku usaha, pasca-Trade Expo Indonesia menjadi tahap penentu apakah minat berubah menjadi investasi dan ekspor nyata.