KALIMANTAN TIMUR — Survei terbaru menunjukkan makin banyak remaja Indonesia memilih bercerita ke chatbot ketimbang ke orang tuanya. Psikolog Pritta Tyas Mangestuti membagikan tiga langkah praktis yang bisa ibu dan ayah lakukan begitu menyadari anak lebih nyaman curhat ke AI.
Remaja zaman sekarang tumbuh bersama gawai sejak kecil. Wajar bila mereka lebih dulu membuka aplikasi sebelum menemui orang tua saat sedang gelisah.
Psikolog Klinis & Keluarga Pritta Tyas Mangestuti, M.Psi, menilai AI bukan sekadar alat bantu tugas sekolah. Baginya, AI bisa jadi teman bicara yang tidak pernah menghakimi—dan justru itu yang membuat remaja betah.
Chatbot tidak memotong pembicaraan, tidak memasang wajah kaget, dan tidak langsung menasihati. Bagi remaja yang sedang sensitif terhadap penilaian, respons netral seperti ini terasa aman.
Pritta mengingatkan, kehadiran AI memang tidak bisa dihindari. Seperti teknologi lain, ia membawa manfaat sekaligus risiko bila dipakai tanpa pendampingan orang tua.
Hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah memahami kebutuhan dasar anak untuk merasa dicintai dan diterima apa adanya.
"Yang pertama, menyadari betul bahwa basic need anak itu adalah dicintai unconditional, dicintai apa adanya," tutur Pritta, dikutip dari laman Instagram @motherandbeyond_id.
Ketika anak merasa aman dicintai tanpa syarat, ia tidak perlu mencari validasi dari layar. Kebutuhan emosional yang terpenuhi di rumah mengurangi ketergantungan pada AI sebagai pelarian.
Momen anak mulai terbuka adalah momen paling rawan. Reaksi spontan yang menghakimi atau memarahi bisa menutup pintu cerita untuk seterusnya.
"Jadi, ketika anak bercerita, sesuatu yang menurut kita mungkin harus saling napas, buang napas, stay cool, meskipun di dalam hati kita berkecamuk. Tapi jangan mengeluarkan komentar-komentar yang langsung membuat anak merasa dihakimi," kata Pritta.
Menarik napas dulu sebelum menjawab terdengar sederhana, tapi efeknya besar. Anak belajar bahwa rumah adalah tempat aman untuk jujur.
Memasuki usia remaja, anak mengalami perubahan fisik dan emosional yang memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri dan lingkungan.
Orang tua perlu membekali diri dengan pengetahuan soal perkembangan anak, terutama saat mereka mulai masuk masa pubertas.
"Orang tua tuh perlu tahu, anak saya nih, misalnya udah masuk usia yang paling maju, apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Nah, ini perlu belajar, bisa dari mana saja," ujarnya.
Pritta mencontohkan, saat anak masuk SMP atau sekitar 13 tahun ke atas, mereka mulai menghadapi gejolak khas pubertas.
"Orang tua perlu tahu nih, kalau anak saya udah masuk SMP, 13 tahun ke atas, dia masuk puberti, gejolak emosi apa yang timbul? Sensitive terhadap penilaian sosial, terus merasa dikucilkan mungkin, kalau ada temennya yang nggak di ini, atau merasa insecure dengan kemampuannya, terus udah mulai suka-sukaan, dan lain sebagainya," kata Pritta.
Anak bisa jadi lebih sensitif terhadap penilaian sosial, merasa dikucilkan, tidak percaya diri, hingga mulai tertarik pada lawan jenis. Perubahan ini normal dan bagian dari tumbuh kembang.
Bila anak menarik diri total, murung berkepanjangan, atau menunjukkan tanda cemas berlebihan, jangan ragu konsultasi ke psikolog anak dan remaja. Pendampingan profesional membantu orang tua memetakan kebutuhan anak dengan lebih tepat.
Pemahaman orang tua membuat perubahan perilaku anak tidak langsung dicap negatif. Sebaliknya, momen ini bisa jadi pintu masuk untuk mendampingi anak melewati masa remaja dengan lebih tenang.