KAI Sumut Rawat 6 Bangunan Cagar Budaya Berusia 100 Tahun Lebih

Penulis: Dimas Prasetyo  •  Sabtu, 26 September 2026 | 14:20:31 WIB
Stasiun Binjai, salah satu dari enam bangunan cagar budaya KAI Divre I Sumatera Utara yang tetap beroperasi.

KALIMANTAN TIMUR — PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional I Sumatera Utara mengelola enam bangunan cagar budaya berusia di atas satu abad di wilayah kerjanya. Enam aset heritage itu terdiri dari satu gedung kantor dan lima stasiun yang tersebar di Kota Medan dan Binjai. Perawatan berkelanjutan membuat bangunan bersejarah tersebut tetap berfungsi sebagai sarana pelayanan penumpang dan operasional kantor.

Enam bangunan yang dimaksud adalah Stasiun Binjai, Kantor Divre I Sumatera Utara, Stasiun Medan, Stasiun Pulubrayan, Stasiun Labuhan, dan Stasiun Belawan. Penetapan status cagar budaya merujuk pada data Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI. Lima bangunan di Kota Medan ditetapkan lewat Surat Keputusan Wali Kota Medan, sedangkan Stasiun Binjai berstatus cagar budaya peringkat nasional.

Stasiun Binjai ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.01/PW.007/MKP/2010. Bangunan itu dinilai memiliki nilai sejarah, sosial, edukasi, ilmiah, kelangkaan, dan keaslian. Hingga kini Stasiun Binjai tetap difungsikan sebagai pusat mobilitas rute Medan-Binjai.

Jejak Deli Spoorweg Maatschappij Sejak 1880-an

Pelestarian bangunan bersejarah di lingkungan KAI merupakan bentuk tanggung jawab menjaga kesinambungan jaringan perkeretaapian yang berkembang sejak 1880-an di bawah Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). Perusahaan kereta api swasta era kolonial itu membangun jalur dan fasilitas yang sebagian bangunannya masih berdiri sampai sekarang.

Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, menyatakan bangunan-bangunan bersejarah di lingkungan KAI adalah bagian dari perjalanan panjang perkeretaapian di Sumatera Utara.

"Bangunan-bangunan bersejarah yang berada di lingkungan KAI merupakan bagian dari perjalanan panjang perkeretaapian di Sumatera Utara. Karena itu, kami berkomitmen merawat dan mengelolanya dengan tetap memperhatikan nilai sejarah dan budaya yang melekat," kata Anwar seperti dikutip Antara, Sabtu (26/9/2026).

Perawatan Rutin agar Tetap Berfungsi Optimal

Meski rata-rata berusia lebih dari satu abad, perawatan berkelanjutan membuat aset heritage itu tetap berfungsi optimal. Bangunan dipakai sebagai sarana pelayanan pelanggan maupun operasional kantor. Penumpang yang melintas di Stasiun Medan atau Stasiun Binjai, misalnya, masih merasakan atmosfer arsitektur lama di ruang tunggu dan peron.

Dalam melestarikan aset, KAI Divre I Sumut berkoordinasi dengan dinas kebudayaan pemerintah daerah, tim ahli cagar budaya, hingga Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK). Koordinasi itu mencakup penyusunan kajian teknis pemugaran, kajian cagar budaya, serta rekomendasi atau izin renovasi bangunan cagar budaya.

"Prinsipnya, pengelolaan bangunan cagar budaya harus tetap menjaga nilai penting dan karakter sejarahnya. Ketika diperlukan adaptasi untuk kebutuhan pelayanan, kami berkoordinasi dengan pihak yang berwenang dan kompeten," tutur Anwar.

Potensi Daya Tarik Wisata Heritage

Bangunan cagar budaya tidak hanya dipandang sebagai warisan sejarah, tetapi juga berpeluang menjadi daya tarik wisata berkualitas. Stasiun-stasiun tua di Medan, Labuhan, dan Belawan menyimpan nilai arsitektur yang jarang ditemui pada bangunan modern. Wisatawan heritage biasanya menjadikan stasiun bersejarah sebagai titik singgah untuk melihat langsung detail fasad, kanopi, hingga elemen interior asli peninggalan DSM.

Anwar menambahkan, pihaknya ingin bangunan-bangunan itu tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga tetap hidup dan memberikan manfaat.

"Kami ingin bangunan-bangunan ini tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga tetap hidup dan memberikan manfaat. Pelanggan dapat merasakan langsung pengalaman berada di ruang pelayanan yang bernilai sejarah sekaligus memenuhi kebutuhan perjalanan masa kini," tutup dia.

Bagi traveler yang berminat menelusuri jejak perkeretaapian kolonial di Sumatera Utara, enam bangunan ini bisa menjadi rute alternatif wisata heritage. Informasi terkini soal akses dan jam kunjungan dapat dikonfirmasi ke KAI Divre I Sumatera Utara atau dinas pariwisata setempat.

Reporter: Dimas Prasetyo
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top