SAMARINDA — Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim Fahmi Himawan menyebut kekeringan paling parah menimpa lahan yang masih mengandalkan curah hujan. Tiga daerah menjadi perhatian utama: Kutai Kartanegara sebagai lumbung pangan provinsi, Paser, dan Penajam Paser Utara.
“Kalau kita lihat, yang terdampak kekeringan ini paling banyak di Kukar karena sebagai pusat produksi pertanian kita. Kemudian di Paser yang juga merupakan pusat produksi pertanian, dan yang ketiga cukup besar terdampak di bulan September di Penajam Paser Utara,” ujar Fahmi, Selasa (22/9/2026).
Sepanjang Agustus 2026, luas lahan terdampak di kabupaten dan kota se-Kaltim mencapai sekitar 2.730 hektare. Sebanyak 543,5 hektare masuk kategori ringan, 1.544 hektare sedang, 455 hektare berat, dan 187 hektare puso.
Lahan puso bulan itu tersebar di enam daerah. Kukar menyumbang 57 hektare, Paser 49 hektare, Kutai Timur 45 hektare, Berau 25 hektare, PPU 7,5 hektare, dan Mahakam Ulu 2 hektare.
Angka puso melonjak pada pertengahan September menjadi 333 hektare, hampir dua kali lipat catatan Agustus. Kenaikan ini menandakan puncak kekeringan memang terjadi pada Agustus-September seperti yang diperkirakan sebelumnya.
DPTPH Kaltim mendorong petani beralih ke varietas padi berumur genjah dan tahan kekeringan. Dua jenis yang direkomendasikan adalah Inpari dan Inpara.
“Yang sudah dilakukan selain mengingatkan, kemudian kita mengarahkan agar menggunakan varietas padi yang genjah, tahan kekeringan seperti jenis Inpari atau Inpara,” kata Fahmi.
Saat ini sekitar 333 unit pompa berkapasitas 3–4 inci tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Peralatan itu berasal dari dukungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, ditambah 70 unit yang telah didistribusikan pada 2023.
Pemerintah juga menyiapkan bantuan bahan bakar minyak secara terbatas, terutama bagi wilayah yang mengalami kekurangan air.
Fahmi berharap seluruh pompa tetap terawat karena usia pakai peralatan bisa mencapai delapan tahun. Persoalan yang sering muncul bukan kerusakan, melainkan penempatan yang tidak tepat sasaran.
“Harapannya pompa ini tidak rusak. Usia peralatan kita itu tidak kurang dari delapan tahun. Cuma kadang penempatannya yang tidak tepat sasaran,” ujarnya.
DPTPH Kaltim mendorong redistribusi pompa dari kelompok tani yang tidak lagi memakainya ke kelompok lain yang belum mendapat dukungan peralatan. Langkah ini agar sarana pengairan tidak menganggur selama ancaman El Nino berlanjut.
Identifikasi BMKG yang dipaparkan dalam rapat tersebut memperkirakan hujan masih berpeluang turun pada Oktober 2026. Namun curah hujan diprediksi tetap di bawah rata-rata.
Kondisi lebih basah diperkirakan baru terjadi pada November. Periode itu pun dinilai tidak berlangsung panjang karena pengaruh El Nino disebut masih berlanjut hingga awal 2027.
Karena itu, mitigasi kekeringan tetap diperlukan, khususnya di sentra produksi pangan Kaltim yang masih bergantung pada curah hujan.