KALIMANTAN TIMUR — Kementerian Kesehatan RI mengonfirmasi subtipe Influenza A H3N2 subclade K atau 'Super Flu' sudah menyebar di 13 provinsi. Anak usia 0-17 tahun berisiko dua kali lebih tinggi terkena infeksi simtomatik, dan sekitar 5 persen anak yang terinfeksi memerlukan rawat inap.
Lonjakan pasien influenza juga dilaporkan di Jawa Timur, sejalan dengan meningkatnya aktivitas virus di zona transmisi Asia Tenggara menurut data Respiratory Viruses Surveillance Bulletin WHO hingga minggu epidemiologi ke-35 tahun 2026.
Pemantauan sentinel di Indonesia menunjukkan fluktuasi positif influenza sepanjang tahun, dengan puncak pada akhir 2025 dan lonjakan kembali pada pertengahan 2026.
Dr dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, menjelaskan bahwa sistem imun anak belum matang sehingga tubuh mereka sulit segera mengendalikan dampak infeksi virus.
"Data global menunjukkan bahwa anak usia 0-17 tahun memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi influenza simtomatik dibandingkan orang dewasa. Sistem imun anak masih naif, sehingga tubuh mereka belum cukup kuat untuk segera mengendalikan dampak infeksi virus," ujar dr Hikari dalam keterangan resmi yang diterima detikcom.
Anak juga melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan lebih lama. Kondisi ini membuat mereka berpotensi menjadi sumber penularan di rumah dan sekolah.
Prof Dr dr Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI, memperingatkan bahwa influenza bisa memicu komplikasi berat pada anak dengan faktor risiko.
Pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis, hingga ensefalopati menjadi sederet komplikasi yang perlu diwaspadai.