KALIMANTAN TIMUR — Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.793 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (21/09/2026), tertekan penguatan mata uang AS dan lonjakan imbal hasil US Treasury. Meski begitu, posisi rupiah masih tertopang ekspektasi Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22-23 September.
Pelemahan rupiah pada awal pekan ini terjadi di tengah kombinasi tekanan eksternal yang cukup kuat. Dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang global, sementara imbal hasil US Treasury melesat ke level yang menarik minat investor untuk memindahkan dana ke aset berdenominasi dolar.
Pergerakan ini menempatkan rupiah pada posisi yang rentan terhadap arus keluar modal jangka pendek. Namun, pasar masih melihat adanya bantalan dari sisi domestik, terutama menjelang RDG Bank Indonesia yang diperkirakan tidak akan mengubah kebijakan suku bunga.
Penguatan dolar AS menjadi faktor dominan yang menekan rupiah pada sesi pembukaan. Imbal hasil US Treasury yang melejit membuat aset berdenominasi dolar semakin menarik bagi investor global, sehingga aliran dana cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kondisi ini bukan tekanan yang berdiri sendiri. Kombinasi antara penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi AS menciptakan lingkungan global yang kurang bersahabat bagi mata uang emerging market. Rupiah pun terpaksa melemah ke Rp17.793 per dolar AS pada pembukaan.
Di sisi domestik, pasar masih menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September. Ekspektasi bahwa BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75% menjadi salah satu faktor yang menahan pelemahan rupiah agar tidak lebih dalam.
Keputusan mempertahankan suku bunga dinilai memberi stabilitas bagi pasar valas domestik. Dengan imbal hasil yang tetap kompetitif, investor masih memiliki alasan untuk mempertahankan posisi di aset rupiah, meski tekanan eksternal sedang meningkat.
Pelemahan rupiah ke level Rp17.793 per dolar AS menjadi sinyal yang perlu dicermati pelaku pasar. Bagi investor asing, selisih imbal hasil antara aset rupiah dan US Treasury menjadi pertimbangan utama dalam menentukan alokasi dana.
Bagi pelaku bisnis yang memiliki eksposur terhadap dolar AS, pelemahan ini menambah tekanan pada biaya impor dan bahan baku. Sementara eksportir berpotensi mendapat manfaat dari pelemahan rupiah, meski tetap bergantung pada permintaan pasar global.
Pasar akan menantikan hasil RDG Bank Indonesia sebagai penentu arah rupiah dalam beberapa hari ke depan. Jika BI mempertahankan sikap akomodatif, tekanan terhadap rupiah diperkirakan tetap terkendali selama tidak ada kejutan baru dari pasar global.