KALIMANTAN TIMUR — Kementerian Keuangan tengah menuntaskan valuasi saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebagai bagian dari pengalihan penanganan utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) dari Danantara ke pemerintah. Proses uji tuntas dan valuasi berjalan paralel, dengan skema pengambilalihan yang disebut telah final tanpa melibatkan APBN secara langsung.
Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Evita Mantovani menyatakan proses pengalihan utang beserta aset Whoosh telah memasuki tahap finalisasi. Pemerintah menyiapkan pemetaan menyeluruh sebelum mengambil alih kewajiban operator proyek strategis nasional tersebut.
"Supaya pengalihan nanti berjalan dengan terencana, tepat dan juga bisa operasional, tentu diperlukan pemetaan beberapa aspek antara lain finansial, aspek bisnis, operasional dan tentu hukumnya," kata Evita dalam konferensi pers APBN Kita di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (18/9).
Evita memastikan pelaksanaan pengalihan tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara secara langsung. Penyusunan Rancangan Peraturan Presiden (RPerpres) juga tengah dilakukan bersamaan dengan koordinasi bersama BP BUMN dan BPI Danantara.
Fokus utama saat ini adalah valuasi nilai saham PSBI, konsorsium BUMN pemilik proyek Whoosh. Uji tuntas dan valuasi dijalankan secara paralel untuk memastikan transparansi proses pengambilalihan.
PSBI merupakan kendaraan konsorsium yang menaungi kepemilikan saham di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Pengalihan saham dari Danantara ke pemerintah menjadi pintu masuk restrukturisasi utang yang selama ini membebani neraca perseroan.
Setelah resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menyatakan akan memeriksa kembali proses pengambilalihan utang Whoosh. Proses tersebut sebelumnya berada di bawah penanganan Purbaya saat menjabat Menteri Keuangan, dan dijadwalkan memasuki tahap pengambilalihan pada Selasa (15/9).
Suahasil enggan memberikan jawaban pasti mengenai kelanjutan pengalihan penanganan utang operator Whoosh. Ia hanya menyatakan akan mengecek lebih dulu perkembangan proses tersebut.
"Saya cek di kantor," kata Suahasil seusai dilantik Prabowo sebagai menkeu di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (14/9).
Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani menegaskan pergantian menteri keuangan tidak akan menghambat proses pengalihan penanganan KCIC. Pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Suahasil untuk melanjutkan langkah tersebut.
"Kami sudah janji bertemu Kamis atau Jumat pekan ini untuk menindaklanjuti beberapa hal yang tentunya berhubungan baik di Danantara maupun juga di Kementerian Investasi," kata Rosan pada kesempatan serupa.
"Ini tim langsung tetap bekerja, mudah-mudahan minggu ini bisa beres semua."
Purbaya sebelumnya mengungkapkan kemungkinan Special Mission Vehicle (SMV) yang akan mengelola kewajiban Whoosh adalah Indonesia Investment Authority (INA) dan Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Setelah direstrukturisasi, utang Whoosh memiliki tenor pembayaran hingga 80 tahun.
Purbaya memastikan ketersediaan dana yang dimiliki SMV untuk membayar utang tersebut. Keuntungan satu SMV disebut sudah dapat menutupi kewajiban pembayaran per tahun utang Whoosh.
"Kalau kita lihat, salah satu yang BUMN yang di bawah Kementerian Keuangan yang agak kecil saja untungnya Rp 3 triliun sampai Rp 4 triliun per tahun. Ada juga yang untung Rp 6 triliun sampai Rp 7 triliun. Jadi cukuplah, enggak ada masalah," kata Purbaya, ditemui di kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).
Pengalihan penanganan utang Whoosh ke pemerintah melalui SMV berpotensi mengurangi beban fiskal jangka pendek sekaligus menjaga kredibilitas proyek infrastruktur strategis. Namun, valuasi saham PSBI yang belum diumumkan membuat pasar menanti kejelasan nilai aset yang dialihkan.
Bagi investor obligasi dan pasar modal, kepastian skema restrukturisasi dengan tenor panjang menjadi sinyal positif terhadap risiko gagal bayar. Pemerintah melalui Kemenkeu menegaskan proses berjalan tanpa APBN, sehingga ruang fiskal tetap terjaga untuk kebutuhan lain.