KALIMANTAN TIMUR — Masalah gizi pada remaja putri di Padang, Sumatera Barat, belum sepenuhnya teratasi. Anemia, kekurangan energi kronis, hingga ketidakseimbangan status gizi masih ditemukan di kalangan santriwati.
Kondisi ini mendorong tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Baiturrahmah menggelar edukasi bertajuk "Gerakan Remaja Putri Sadar Gizi" pada Sabtu, 12 September 2026, di MAS Al Falah Pondok Pesantren Perkampungan Minangkabau.
Status gizi sejak remaja adalah fondasi kesehatan reproduksi dan periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Artinya, persiapan menyambut generasi sehat tidak dimulai saat seorang perempuan hamil.
Dari kondisi awal mitra, tim PkM menemukan keterbatasan pemahaman santriwati soal gizi seimbang, anemia, kesehatan reproduksi, dan pentingnya menjaga status gizi sejak remaja. Padahal, semua ini bekal menuju kehamilan sehat di masa depan.
Ketua tim PkM, Putri Engla Pasalina, S.ST., M.Keb., bersama anggota Nirmala Sari, Vitri Yuli Afni A., Hendri Devita, Dr. Sukmayenti, apt. Siska Ferilda, drg. Intan Kamala Aisyiyah, dan Rima Wirenviona, merancang program ini sebagai upaya promotif dan preventif.
Tim memilih pendekatan yang dekat dengan dunia remaja: komik berjudul "Komik Remaja Putri Sadar Gizi". Media ini menggunakan bahasa sederhana dan ilustrasi visual agar materi mudah dicerna.
Isi komik mencakup gizi seimbang, pola makan sehat, anemia, pentingnya konsumsi tablet tambah darah, serta kaitan kesehatan remaja dengan persiapan 1000 HPK. Komik dan poster yang dibagikan juga dirancang agar bisa dipakai ulang sebagai media pembelajaran di pesantren.
Setelah edukasi, santriwati mengikuti demonstrasi pengukuran berat badan dan tinggi badan, lalu menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT). Tujuannya agar mereka tahu bahwa memantau status gizi bisa dilakukan sendiri secara berkala.
Santriwati tidak hanya menerima teori, tetapi juga pengalaman praktis memantau kondisi tubuh. Pengukuran berat badan dan tinggi badan menjadi dasar penghitungan IMT untuk memantau status gizi.
Agar manfaatnya tidak berhenti setelah acara, tim PkM menyerahkan timbangan dan alat pengukur tinggi badan ke pihak pesantren. Peralatan ini mendukung pemantauan status gizi santriwati secara rutin.
Media edukasi berupa komik dan poster juga diserahkan untuk memperkuat literasi kesehatan di lingkungan pesantren. Program ini sekaligus menjadi bentuk pemberdayaan remaja berbasis lingkungan pesantren.
Jika putri Anda terlihat lemas, pucat, mudah lelah, atau sulit berkonsentrasi, itu bisa jadi tanda anemia atau kekurangan energi kronis. Segera konsultasikan ke tenaga kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Pemantauan berat badan dan tinggi badan sederhana di rumah bisa jadi langkah awal. Bila ada kecurigaan gangguan gizi, jangan tunda untuk memeriksakan ke dokter atau puskesmas terdekat.
Kegiatan ini mendukung pencapaian SDGs 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, serta SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Bagi ibu dengan anak remaja, edukasi gizi sejak dini adalah investasi kesehatan yang berdampak lintas generasi.