KALIMANTAN TIMUR — Manager of Public Relation LRT Jabodebek Radhitya Mardika menjelaskan, petugas bergerak cepat begitu menerima informasi gempa dari BMKG. Pemeriksaan dimulai sekitar pukul 04.30 WIB, hanya beberapa menit setelah gempa terjadi pada 04.23 WIB.
Petugas memeriksa sejumlah komponen vital: jalur, persinyalan, stasiun, serta prasarana pendukung lainnya. Hasilnya, tidak ditemukan kerusakan maupun kondisi yang berpotensi mengganggu keselamatan dan kelancaran perjalanan.
Radhitya menegaskan, keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap kondisi. "Setelah menerima informasi gempa, petugas segera melakukan pemeriksaan terhadap prasarana LRT Jabodebek. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi jalur, persinyalan, stasiun, serta prasarana pendukung lainnya tetap dalam kondisi aman," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (12/9).
Selain pemeriksaan fisik, pemantauan juga dilakukan melalui Operating Control Center (OCC) yang didukung Seismic Detection Alarm System (SDAS). Sistem ini memberikan informasi soal dampak getaran gempa terhadap prasarana LRT.
Data dari SDAS menjadi acuan bagi petugas dalam menentukan langkah tindak lanjut setelah gempa. "LRT Jabodebek memastikan setiap informasi terkait gempa ditindaklanjuti melalui pemantauan dan pemeriksaan prasarana. Keselamatan perjalanan dan pengguna menjadi prioritas dalam setiap kondisi," kata Radhitya.
Dengan hasil pemeriksaan yang bersih, jadwal perjalanan LRT Jabodebek tidak mengalami perubahan. Penumpang tetap bisa menggunakan layanan ini seperti biasa pada Sabtu pagi.
Sementara itu, PT KAI sempat menghentikan sejumlah perjalanan Commuter Line di waktu yang sama. Langkah itu diambil untuk melakukan pengecekan jalur secara menyeluruh sebelum layanan kembali dijalankan.
BMKG mencatat gempa tersebut memiliki kedalaman 376 KM. Pusat gempa berada di wilayah Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Meski cukup kuat, getaran tidak sampai merusak infrastruktur transportasi publik di daratan.
LRT Jabodebek terus mengandalkan kombinasi pemantauan OCC dan SDAS untuk merespons potensi gempa susulan. Setiap laporan dari sistem tersebut langsung ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan.
Bagi penumpang, kepastian operasional ini menjadi kabar baik. Layanan transportasi berbasis rel itu tetap menjadi pilihan mobilitas yang aman meski wilayah Jabodetabek berada di zona rawan gempa.