KALIMANTAN TIMUR — Prestasi ini diraih dalam rentang waktu satu bulan, dimulai dari turnamen Esports Free Fire Tingkat SMA/SMK dalam rangka Hari Bhayangkara Ke-78 yang digelar Polda Kepulauan Bangka Belitung. Pada ajang tersebut, tim asal Toboali ini sukses mengamankan posisi ketiga setelah mengalahkan puluhan tim dari sekolah lain.
Lanjut ke kompetisi berikutnya, giliran SMA Santo Yoseph Pangkalpinang yang menjadi tuan rumah CITY QUALIFIER GYC 2026. Di turnamen level pelajar se-Bangka Belitung ini, SMA Muhammadiyah Toboali naik podium tertinggi sebagai juara pertama.
Lima siswa yang menjadi tulang punggung tim ini adalah Dzaki Nadhif, Revan, Ripky, Ziandi, dan Andrew. Mereka bertanding mewakili nama sekolah di dua event yang berbeda dengan hasil yang konsisten.
Dzaki Nadhif, salah satu anggota tim, menegaskan motivasi utama mereka sederhana: membawa nama baik sekolah di tingkat provinsi. "Tentunya dengan harapan kegiatan ini juga menjadi ajang perlombaan untuk anak-anak muda ke depan," ujar Dzaki dalam laporan yang diterima redaksi.
Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Toboali, Supiandi M.Pd, menyambut positif pencapaian anak didiknya. Ia menilai keberhasilan ini membuktikan bahwa perangkat yang kerap dianggap sebagai sumber distraksi bisa diarahkan menjadi alat pengasah kemampuan.
"Artinya handphone bisa juga dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan positif yang juga mengasah kemampuan mereka dalam bermain free fire menggunakan handphone," ungkap Supiandi.
Supiandi juga mengapresiasi konsistensi para siswanya yang terus mengharumkan nama sekolah di berbagai bidang. "Alhamdulillah, prestasi yang diraih para pelajar SMA Muhammadiyah Toboali sangat baik dan bisa mengharumkan nama baik sekolah," jelasnya.
Kemenangan beruntun ini menjadi sinyal positif bagi ekosistem esport pelajar di luar Pulau Jawa. Turnamen seperti CITY QUALIFIER GYC 2026 dan ajang Polda Babel membuktikan bahwa kompetisi terstruktur untuk game mobile seperti Free Fire mulai mendapat tempat di lingkungan pendidikan.
Bagi SMA Muhammadiyah Toboali, hasil ini bukan sekadar piala. Ini adalah fondasi untuk membangun program pembinaan esport yang lebih serius di sekolah, sekaligus motivasi bagi sekolah lain di Bangka Belitung untuk melakukan hal serupa.